<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Kajian Salafy</title>
	<atom:link href="http://salafyonly.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://salafyonly.wordpress.com</link>
	<description>Berbagai Artikel Lengkap Ahlus Sunnah Wal Jamaah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Aug 2007 12:30:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='salafyonly.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kumpulan Kajian Salafy</title>
		<link>http://salafyonly.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://salafyonly.wordpress.com/osd.xml" title="Kumpulan Kajian Salafy" />
	<atom:link rel='hub' href='http://salafyonly.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Berkhidmat Pada Suami</title>
		<link>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/berkhidmat-pada-suami/</link>
		<comments>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/berkhidmat-pada-suami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jul 2007 21:26:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafyonly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[asysyariah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[DarusSalaf]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[thullabul-ilmiy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/berkhidmat-pada-suami/</guid>
		<description><![CDATA[Pulang dari bekerja, semestinya adalah waktu untuk beristrirahat bagi suami selaku kepala rumah tangga. Namun banyak kita jumpai fenomena di mana mereka justru masih disibukkan dengan segala macam pekerjaan rumah tangga sementara sang istri malah ngerumpi di rumah tetangga. Bagaimana istri shalihah menyikapi hal ini? Salah satu sifat istri shalihah yang menandakan bagusnya interaksi kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=76&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Pulang dari  bekerja, semestinya adalah waktu untuk beristrirahat bagi suami selaku kepala  rumah tangga. Namun banyak kita jumpai fenomena di mana mereka justru masih  disibukkan dengan segala macam pekerjaan rumah tangga sementara sang istri malah  ngerumpi di rumah tetangga. Bagaimana istri shalihah menyikapi hal  ini?</span></font></p>
<p align="left"><span id="more-76"></span></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Salah satu sifat  istri shalihah yang menandakan bagusnya interaksi kepada suaminya adalah  berkhidmat kepada sang suami dan membantu pekerjaannya sebatas yang ia mampu. Ia  tidak akan membiarkan sang suami melayani dirinya sendiri sementara ia duduk  berpangku tangan menyaksikan apa yang dilakukan suaminya. Ia merasa enggan bila  suaminya sampai tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah, memasak, mencuci,  merapikan tempat tidur, dan semisalnya, sementara ia masih mampu untuk  menanganinya. Sehingga tidak mengherankan bila kita mendapati seorang istri  shalihah menyibukkan harinya dengan memberikan pelayanan kepada suaminya, mulai  dari menyiapkan tempat tidurnya, makan dan minumnya, pakaiannya, dan kebutuhan  suami lainnya. Semua dilakukan dengan penuh kerelaan dan kelapangan hati  disertai niat ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Dan sungguh ini merupakan  bentuk perbuatan ihsannya kepada suami, yang diharapkan darinya ia akan beroleh  kebaikan.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Berkhidmat kepada  suami ini telah dilakukan oleh wanita-wanita utama lagi mulia dari kalangan  shahabiyyah, seperti yang dilakukan Asma’ bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq  radhiallahu &#8216;anhuma yang berkhidmat kepada Az-Zubair ibnul Awwam radhiallahu  &#8216;anhu, suaminya. Ia mengurusi hewan tunggangan suaminya, memberi makan dan minum  kudanya, menjahit dan menambal embernya, serta mengadon tepung untuk membuat  kue. Ia yang memikul biji-bijian dari tanah milik suaminya sementara jarak  tempat tinggalnya dengan tanah tersebut sekitar 2/3 farsakh1.” (HR. Bukhari no.  5224 dan Muslim no. 2182)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Demikian pula  khidmatnya Fathimah bintu Rasulillah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di rumah  suaminya, Ali bin Abi Thalib radhiallahu &#8216;anhu, sampai-sampai kedua tangannya  lecet karena menggiling gandum. Ketika Fathimah datang ke tempat ayahnya untuk  meminta seorang pembantu, sang ayah yang mulia memberikan bimbingan kepada yang  lebih baik:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">أَلاَ  أَدُلُّكُماَ عَلَى ماَ هُوَ خَيْرٌ لَكُماَ مِنْ خاَدِمٍ؟ إِذَا أَوَيْتُماَ إِلَى  فِرَاشِكُماَ أَوْ أَخَذْتُماَ مَضاَجِعَكُماَ فَكَبَّرَا أًَرْبَعاً وَثَلاَثِيْنَ  وَسَبَّحاَ ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ وَحَمِّدَا ثَلاَثاً وَثَلاثِيْنَ، فَهَذَا  خَيْرٌ لَكُماَ مِنْ خاَدِمٍ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Maukah aku  tunjukkan kepada kalian berdua apa yang lebih baik bagi kalian daripada seorang  pembantu? Apabila kalian mendatangi tempat tidur kalian atau ingin berbaring,  bacalah Allahu Akbar 34 kali, Subhanallah 33 kali, dan Alhamdulillah 33 kali.  Ini lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.” (HR. Al-Bukhari no. 6318  dan Muslim no. 2727)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Shahabat  Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, Jabir bin Abdillah radhiallahu &#8216;anhu,  menikahi seorang janda untuk berkhidmat padanya dengan mengurusi saudara-saudara  perempuannya yang masih kecil. Jabir berkisah: “Ayahku meninggal dan ia  meninggalkan 7 atau 9 anak perempuan. Maka aku pun menikahi seorang janda.  Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bertanya padaku:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">تَزَوَّجْتَ ياَ  جاَبِر؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ. فَقاَلَ: بِكْرًا أَمْ ثَيِّباً؟ قُلْتُ: بَلْ ثَيِّباً.  قاَلَ: فَهَلاَّ جاَرِيَةً تُلاَعِبُهاَ وَتُلاَعِبُكَ، وَتُضاَحِكُهاَ  وَتُضاَحِكُكَ؟ قاَلَ فَقُلْتُ لَهُ: إِنَّ عَبْدَ اللهِ هَلَكَ وَ تَرَكَ بَناَتٍ،  وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَجِيْئَهُنَّ بِمِثْلِهِنَّ، فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً  تَقُوْمُ عَلَيْهِنَّ وَتُصْلِحُهُنَّ. فَقاَلَ: باَرَكَ اللهُ لَكَ، أَوْ قاَلَ:  خَيْرًا</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Apakah engkau  sudah menikah, wahai Jabir?”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Sudah,”  jawabku.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Dengan gadis  atau janda?” tanya beliau.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Dengan janda,”  jawabku.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Mengapa engkau  tidak menikah dengan gadis, sehingga engkau bisa bermain-main dengannya dan ia  bermain-main denganmu. Dan engkau bisa tertawa bersamanya dan ia bisa tertawa  bersamamu?” tanya beliau.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Ayahku,  Abdullah, meninggal dan ia meninggalkan anak-anak perempuan dan aku tidak suka  mendatangkan di tengah-tengah mereka wanita yang sama dengan mereka. Maka aku  pun menikahi seorang wanita yang bisa mengurusi dan merawat mereka,”  jawabku.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Beliau berkata:  “Semoga Allah memberkahimu”, atau beliau berkata: “Semoga kebaikan bagimu.” (HR.  Al-Bukhari no. 5367 dan Muslim no. 1466)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Hushain bin  Mihshan berkata: “Bibiku berkisah padaku, ia berkata: “Aku pernah mendatangi  Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam karena suatu kebutuhan, beliaupun  bertanya:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">أَيْ هذِهِ!  أَذَاتُ بَعْلٍ؟ قُلْتُ: نَعَم. قاَلَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قُلْتُ: ماَ آلُوْهُ  إِلاَّ ماَ عَجَزْتُ عَنْهُ. قاَلَ: فَانْظُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّماَ  هُوَ جَنَّتُكَ وَناَرُكَ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Wahai wanita,  apakah engkau telah bersuami?”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Iya,”  jawabku.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Bagaimana engkau  terhadap suamimu?” tanya beliau.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Aku tidak  mengurang-ngurangi dalam mentaatinya dan berkhidmat padanya, kecuali apa yang  aku tidak mampu menunaikannya,” jawabku.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Lihatlah di mana  keberadaanmu terhadap suamimu, karena dia adalah surga dan nerakamu,” sabda  beliau. (HR. Ibnu Abi Syaibah dan selainnya, dishahihkan sanadnya oleh  Asy-Syaikh Al- Albani rahimahullah dalam Adabuz Zifaf, hal.  179)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Namun di sisi  lain, suami yang baik tentunya tidak membebani istrinya dengan pekerjaan yang  tidak mampu dipikulnya. Bahkan ia melihat dan memperhatikan keberadaan istrinya  kapan sekiranya ia butuh bantuan.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Adalah Rasulullah  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam gambaran suami yang terbaik. Di tengah kesibukan  mengurusi umat dan dakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, beliau  menyempatkan membantu keluarganya dan mengerjakan apa yang bisa beliau kerjakan  untuk dirinya sendiri tanpa membebankan kepada istrinya, sebagaimana diberitakan  istri beliau, Aisyah radhiallahu &#8216;anha ketika Al-Aswad bin Yazid bertanya  kepadanya:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">ماَ كاَنَ  النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي الْبَيْتِ؟ قاَلَتْ:  كاَنَ يَكُوْنُ فِيْ مِهْنَةِ أَهْلِهِ –تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ- فَإِذَا  حَضَرَتِ الصَّلاَةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Apa yang biasa  dilakukan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di dalam  rumah?”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Aisyah  radhiallahu &#8216;anha menjawab: “Beliau biasa membantu pekerjaan istrinya. Bila tiba  waktu shalat, beliau pun keluar untuk mengerjakan shalat.” (HR. Al-Bukhari no.  676, 5363)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalam riwayat  lain, Aisyah radhiallahu &#8216;anha menyebutkan pekerjaan yang Rasulullah Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam lakukan di rumahnya:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">ماَ يَصْنَعُ  أَحَدُكُمْ فِيْ بَيْتِهِ، يَخْصِفُ النَّعْلَ وَيَرْقَعُ الثَّوْبَ  وَيُخِيْطُ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Beliau  mengerjakan apa yang biasa dikerjakan salah seorang kalian di rumahnya. Beliau  menambal sandalnya, menambal bajunya, dan menjahitnya.” (HR. Al-Bukhari dalam  Al-Adabul Mufrad no. 540, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam  Shahih Al-Adabil Mufrad no. 419 dan Al-Misykat no. 5822)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">كاَنَ بَشَرًا  مِنَ الْبَشَرِ، يَفْلِي ثَوْبَهُ وَيَحْلُبُ شاَتَهُ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Beliau manusia  biasa. Beliau menambal pakaiannya dan memeras susu kambingnya”. (HR. Al- Bukhari  dalam Al-Adabul Mufrad no. 541, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah  dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 420 dan Ash-Shahihah 671)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Wallahu ta’ala  a’lam bish-shawab.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">1 1 farsakh  kurang lebih 8 km atau 3,5 mil</span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafyonly.wordpress.com/76/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafyonly.wordpress.com/76/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafyonly.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafyonly.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafyonly.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafyonly.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafyonly.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafyonly.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafyonly.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafyonly.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafyonly.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafyonly.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafyonly.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafyonly.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafyonly.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafyonly.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=76&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/berkhidmat-pada-suami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0f837da578f7d306ee4326fc0fed6e9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafyonly</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>YA UKHTI…, JAUHILAH TABARRUJ…!</title>
		<link>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/ya-ukhti%e2%80%a6-jauhilah-tabarruj%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/ya-ukhti%e2%80%a6-jauhilah-tabarruj%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jul 2007 21:26:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafyonly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[asysyariah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[DarusSalaf]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[thullabul-ilmiy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/ya-ukhti%e2%80%a6-jauhilah-tabarruj%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[Apa itu Tabarruj…? Tabarruj yakni bila “seorang wanita menampakkan perhiasannya dan kecantikannya serta terlihat bagian-bagian yang seharusnya wajib ditutupi, dimana bagian-bagian itu akan memancing syahwat pria.” [ Fathul Bayan 7 / 274 ] Allah Azza wajalla tentang permasalahan ini bersabda dalam Surah Al-Ahzab: (٣٣) ~ وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=75&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Apa itu  Tabarruj…?</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Tabarruj yakni  bila “seorang wanita menampakkan perhiasannya dan kecantikannya serta terlihat  bagian-bagian yang seharusnya wajib ditutupi, dimana bagian-bagian itu akan  memancing syahwat pria.” [ Fathul Bayan 7 / 274 ]</span></font></p>
<p align="left"><span id="more-75"></span></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah Azza  wajalla tentang permasalahan ini bersabda dalam Surah  Al-Ahzab:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">(٣٣) ~ وَقَرْنَ  فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى  وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ  إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ  وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا ¯</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">artinya:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dan hendaklah  kamu tetap di rumahmu dan janganlah kalian bertabarruj seperti bertabarruj-nya  wanita jahiliyyah dahulu, dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah  Allah dan Rasul- Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa  dari kamu, hai ahlul-bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. [QS Al-Ahzab  : 33 ]</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Imam Adz~Dzahabi  berkata dalam “Al~Kaba`ir” yakni “Di antara perbuatan yang menyebabkan para  wanita mendapat laknat adalah menampakkan perhiasan emas dan permata yang ada di  balik pakaiannya, memakai misk, anbar (nama sejenis minyak wangi) dan parfum  jika keluar dari rumah, memakai pakaian-pakaian yang dicelup, sarung-sarung  sutera dan penutup kepala yang pendek, bersamaan dengan itu dia memajangkan  pakaian, meluaskan dan memanjangkan ujung lengan pakaian. Semua itu termasuk  tabarruj yang Allah murkai. Allah murka kepada pelakunya di dunia dan akhirat.  Karena perbuatan-perbuatan ini yang banyak dilakukan wanita, Rasulullah  Shalallohu`alaihi wasallam bersabda:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“&#8230;&#8230;. Aku  memandang ke neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah  wanita.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Hadits ini  diriwayatkan oleh :</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">1. &#8211; Bukhari  dalam kitab Bad’ul Khalq bab Maa Ja’a fi Shifatil Jannah (kitab 59 bab  8).</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">2. &#8211; Tirmidzi  dalam kitab Shifatil Jahannam bab Maa Ja’a Anna Aktsara Ahli Nar An Nisa’ (kitab  40 bab 11 hadits ke-2602), dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi  2098 dari Ibnu Abbas.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">3. &#8211; Ahmad 2/297  dari Abu Hurairah. Dan hadits ini dishahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’  1030.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dari Imran bin  Hushain berkata : “Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda  :</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Sesungguhnya  penghuni Surga yang paling sedikit adalah para wanita&#8230;.’ “</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">(HR. Muslim 95,  2738. An Nasa’i 385)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Saya (Syaikh  Al~Albani, pent.) berkata: “Islam telah bersikap keras dalam memperingatkan  ummatnya dari perbuatan tabarruj ini hingga menyandingkannya dengan kesyirikan,  zina, mencuri dan perbuatan haram lainnya. Itu terjadi ketika Nabi  Shalallohu`alaihi wasallam membai`at para wanita agar mereka tidak melakukan  hal-hal itu. Abdullah bin `Amr radhiyallahu`anhu berkata: Umaimah binti Ruqaiqah  datang kepada Rasulullah Shalallohu`alaihi wasallam untuk berbai`at kepada  beliau, maka beliau berkata:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Saya akan  membai’atmu untuk engkau tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, jangan  engkau mencuri, berzina, membunuh anakmu, melakukan kebohongan yang engkau buat  antara hadapanmu dan antara dua kakimu, jangan meratap dan jangan bertabarrujnya  jahiliyyah dahulu.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ketahuilah, bukan  termasuk perkara terlarang sedikitpun jika pakaian wanita yang dia pakai  berwarna putih atau hitam, sebagaimana yang dianggap oleh sebagian wanita yang  komit terhadap Sunnah.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Itu dengan alasan  :</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">® Pertama : Sabda  Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam yang berbunyi: “ Parfum wanita adalah  yang jelas warnanya dan lembut harumnya &#8230; “</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">® Kedua :  Pengalaman para wanita sahabat, dengan kisah sebagai berikut  :</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">1 : Dari Ibrohim  An Nakha’i bahwa dia masuk bersama Alqamah serta Al Aswad kepada isteri – isteri  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia melihat mereka menyelimuti diri  mereka dengan pakaian berwarna merah.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">2 : Dari Ibnu Abi  Mulaikah, ia berkata; Aku melihat Ummu Salamah mengenakan jilbab dan berselimut  dengan pakaian yang dicelup ddengan warna mu`ashfar (campuran antara kuning dan  merah).</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">3 : Dari Al  qosim, yaitu Ibnu Muhammad bin Abi Bakr Ash Shiddiq dia berkata bahwa ‘Aisyah  memakai pakaian yang dicelup dengan mu’ashfar, padahal dia waktu itu sedang  ihram.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">( Jilbab Al  Mar’ah Al Muslimah 120-123 dengan sedikit ringkasan).</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Disadur dari  Buletin Islamiy Al-Minhaj, edisi I /I Rubrik “Mar`ah  Sholihah”</span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafyonly.wordpress.com/75/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafyonly.wordpress.com/75/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafyonly.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafyonly.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafyonly.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafyonly.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafyonly.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafyonly.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafyonly.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafyonly.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafyonly.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafyonly.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafyonly.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafyonly.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafyonly.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafyonly.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=75&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/ya-ukhti%e2%80%a6-jauhilah-tabarruj%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0f837da578f7d306ee4326fc0fed6e9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafyonly</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Muslimah dan Dakwah</title>
		<link>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/muslimah-dan-dakwah/</link>
		<comments>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/muslimah-dan-dakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jul 2007 21:25:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafyonly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[asysyariah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[DarusSalaf]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[thullabul-ilmiy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/muslimah-dan-dakwah/</guid>
		<description><![CDATA[Wanita sama seperti pria dalam kewajiban berdakwah kepada Allah dan beramar ma`ruf nahi mungkar. Dalil-dalil dari Al-qur`an dan Sunnah mencakup semuanya, kecuali yang dikecualikan oleh dalil. Ucapan para ulama juga jelas dalam hal itu. Diantara dalil dari Al-qur`an tentang hal itu: وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ “Kaum mukminin dan mukminat, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=74&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Wanita sama  seperti pria dalam kewajiban berdakwah kepada Allah dan beramar ma`ruf nahi  mungkar.</span></font></p>
<p align="left"><span id="more-74"></span></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalil-dalil dari  Al-qur`an dan Sunnah mencakup semuanya, kecuali yang dikecualikan oleh dalil.  Ucapan para ulama juga jelas dalam hal itu. Diantara dalil dari Al-qur`an  tentang hal itu:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">وَالْمُؤْمِنُونَ  وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ  وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Kaum mukminin  dan mukminat, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian lainnya. Mereka  menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (At-Taubah :  71)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">كُنتُمْ خَيْرَ  أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ  الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“ Kalian adalah  sebaik-baik ummat yang dilahirkan bagi manusia. Kalian menyuruh kepada yang  ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar serta kalian beriman kepada Allah.” (Ali  Imron : 110)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Hendaknya wanita  itu berdakwah kepada Allah dengan adab-adab yang sesuai dengan syari`at yang  juga dituntut dari para pria. Wanita itu juga harus sabar dan mengharap pahala  dari Allah:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">وَاصْبِرُواْ  إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“ Bersabarlah  kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal :  46)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dan juga firman  Allah azza wajalla yang menceritakan ucapan Luqman kepada  anaknya:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Wahai anakku,  dirikanlah sholat, suruhlah kepada yang ma`ruf, laranglah dari yang mungkar dan  bersabarlah engkau menghadapi apa yang menimpamu, karena itu adalah perkara yang  diwajibkan Allah.” (Luqman : 17)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kemudian dia juga  hendaknya memperhatikan beberapa perkara, seperti: dia harus menjadi tauladan  dalam menjaga iffah (kehormatan), hijab dan amal sholih. Hendaknya dia menjahui  tabarruj dan ikhtilath (bercampur-baur antara pria dan wanita yang bukan  mukhrim) yang itu adalah terlarang hingga dia berdakwah dengan ucapan dan  perbuatan dalam meninggalkan apa yang diharamkan Allah atasnya. (Ini jawaban  atas soal: Apakah pendapat Anda antara wanita dan dakwah?)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Soal berikutnya:  Apakah perlu kita sediakan waktu untuk wanita agar dia berdakwah kepada  Allah?</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Jawab: Saya tidak  dapati ada larangan dalam hal itu. Jika ditemui ada wanita sholihah yang bisa  berdakwah, maka selayaknya dia dibantu, diatur waktunya, diminta darinya untuk  membimbing para wanita sejenisnya, karena memang para wanita butuh kepada para  pembimbing wanita. Adanya wanita seperti ini di kalangan wanita lainnya kadang  lebih bermanfaat dalam menyampaikan dakwah untuk mengajak kepada jalan yang  benar daripada pria. Kadang wanita- wanita itu malu bertanya kepada da`i yang  pria, sehingga dia menyembunyikan apa yang seharusnya dia tanyakan. Kadang pula  dia terlarang untuk mendengarkan dakwah dari pria. Namun jika da`inya wanita,  dia tidak demikian. Karena dia bisa berdekatan dengannya dan menyampaikan apa  yang perlu baginya serta hal itu lebih besar pengaruhnya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Maka wanita yang  memiliki ilmu hendaknya menjalankan kewajiban dakwah ini dan membimbing kepada  kebaikan semampunya berdasarkan firman Allah:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">ادْعُ إِلِى  سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي  هِيَ أَحْسَنُ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Ajaklah mereka  kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik serta debatlah mereka  dengan cara yang paling baik.” (An-Nahl : 125)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">قُلْ هَـذِهِ  سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ  اتَّبَعَنِي</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Katakanlah:  Inilah jalanku, aku berdakwah kepada Allah berdasarkan bashiroh (ilmu), aku dan  orang yang mengikutiku.” (Yusuf : 108)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Dan siapakah  yang lebih baik ucapannya daripada orang yang berdakwah kepada Allah dan beramal  sholih dan dia mengatakan: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah  diri (Islam).” (At-Taghabun:16)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dan juga firman  Allah Subhanahuwata`ala:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Maka bertaqwalah  kalian semampunya.” (Fushilat : 33)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ayat-ayat yang  semakna dengan ini cukup banyak. Mencakup pria dan wanita dan hanya Allah lah  yang memberikan taufiq.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">_________________________________________________</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dikutip dari  Buletin Islamiy “Al-Minhaj”, Edisi kedua Tahun I, hal. 16.</span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafyonly.wordpress.com/74/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafyonly.wordpress.com/74/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafyonly.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafyonly.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafyonly.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafyonly.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafyonly.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafyonly.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafyonly.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafyonly.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafyonly.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafyonly.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafyonly.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafyonly.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafyonly.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafyonly.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=74&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/muslimah-dan-dakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0f837da578f7d306ee4326fc0fed6e9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafyonly</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menebar Keangkuhan Menuai Kehinaan</title>
		<link>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/menebar-keangkuhan-menuai-kehinaan/</link>
		<comments>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/menebar-keangkuhan-menuai-kehinaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jul 2007 21:24:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafyonly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[asysyariah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[DarusSalaf]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[thullabul-ilmiy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/menebar-keangkuhan-menuai-kehinaan/</guid>
		<description><![CDATA[Masih berkaca pada untaian nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya. Menjelang akhir nasihatnya, Luqman melarang sang anak dari sikap takabur dan memerintahkannya untuk merendahkan diri (tawadhu’). Luqman berkata kepada anaknya: وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتاَلٍ فَخُوْرٍ “Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong), dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=73&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Masih berkaca  pada untaian nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya. Menjelang akhir nasihatnya,  Luqman melarang sang anak dari sikap takabur dan memerintahkannya untuk  merendahkan diri (tawadhu’). Luqman berkata kepada anaknya:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"></span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">وَلاَ تُصَعِّرْ  خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ  كُلَّ مُخْتاَلٍ فَخُوْرٍ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><span id="more-73"></span></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Dan janganlah  engkau memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong), dan janganlah berjalan  dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang angkuh dan  menyombongkan diri.” (Luqman: 18)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Demikian Luqman  melarang untuk memalingkan wajah dan bermuka masam kepada orang lain karena  sombong dan merasa dirinya besar, melarang dari berjalan dengan angkuh, sombong  terhadap nikmat yang ada pada dirinya dan melupakan Dzat yang memberikan nikmat,  serta kagum terhadap diri sendiri. Karena Allah tidak menyukai setiap orang yang  menyombongkan diri dengan keadaannya dan bersikap angkuh dengan ucapannya.  (Taisirul Karimir Rahman hal. 649)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Pada ayat yang  lain Allah k melarang pula:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">وَلاَ تَمْشِ فِي  اْلأَرْضِ مَرَحاً إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ اْلأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِباَلَ  طُوْلاً</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Dan janganlah  berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tak akan dapat  menembus bumi dan tidak akan mencapai setinggi gunung.” (Al-Isra`:  37)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Demikianlah,  seseorang dengan ketakaburannya tidak akan dapat mencapai semua itu. Bahkan ia  akan menjadi seorang yang terhina di hadapan Allah k dan direndahkan di hadapan  manusia, dibenci, dan dimurkai. Dia telah menjalani akhlak yang paling buruk dan  paling rendah tanpa menggapai apa yang diinginkannya. (Taisirul Karimir Rahman,  hal. 458)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kehinaan. Inilah  yang akan dituai oleh orang yang sombong. Dia tidak akan mendapatkan apa yang  dia harapkan di dunia maupun di akhirat.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">‘Amr bin Syu’aib  meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi n:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">يُحْشَرُ  الْمُتَكَبِّرُوْنَ يَوْمَ الْقِياَمَةِ أَمْثاَلَ الذَّرِّ فِيْ صُوْرَةِ  الرِّجاَلِ، يَغْشاَهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكاَنٍ، يُسَاقُوْنَ إِلَى سِجْنٍ  مِنْ جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُوْلَسَ، تَغْلُوْهُمْ ناَرٌ مِنَ اْلأَنْياَرِ،  وَيُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِيْنَةِ  الْخَباَلِ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Orang-orang yang  sombong dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam bentuk  manusia, diliputi oleh kehinaan dari segala arah, digiring ke penjara di  Jahannam yang disebut Bulas, dilalap oleh api dan diberi minuman dari perasan  penduduk neraka, thinatul khabal.1” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh  Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 434)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Bahkan seorang  yang sombong terancam dengan kemurkaan Allah k. Demikian yang kita dapati dari  Rasulullah n, sebagaimana yang disampaikan oleh seorang shahabat mulia,  ‘Abdullah bin ‘Umar c:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">مَنْ تَعَظَّمَ  فِي نَفْسِهِ أَوِ اخْتَالَ فِي مِشْيَتِهِ لَقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ  عَلَيْهِ غَضْبَانُ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Barangsiapa yang  merasa sombong akan dirinya atau angkuh dalam berjalan, dia akan bertemu dengan  Allah k dalam keadaan Allah murka terhadapnya.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh  Asy- Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no.  427)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kesombongan  (kibr) bukanlah pada orang yang senang dengan keindahan. Akan tetapi,  kesombongan adalah menentang agama Allah k dan merendahkan hamba-hamba Allah k.  Demikian yang dijelaskan oleh Rasulullah n tatkala beliau ditanya oleh ‘Abdullah  bin ‘Umar c, “Apakah sombong itu bila seseorang memiliki hullah2 yang  dikenakannya?” Beliau n menjawab, “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki dua  sandal yang bagus dengan tali sandalnya yang bagus?” “Tidak.” “Apakah bila  seseorang memiliki binatang tunggangan yang dikendarainya?” “Tidak.” “Apakah  bila seseorang memiliki teman-teman yang biasa duduk bersamanya?” “Tidak.”  “Wahai Rasulullah, lalu apakah kesombongan itu?” Kemudian beliau n  menjawab:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">سَفَهُ الْحَقِّ  وَغَمْطُ النَّاسِ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Meremehkan  kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Asy-Syaikh  Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 426)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Tak sedikit pun  Rasulullah n membuka peluang bagi seseorang untuk bersikap sombong. Bahkan  beliau n senantiasa memerintahkan untuk tawadhu’. ‘Iyadh bin Himar z  menyampaikan bahwa Rasulullah n bersabda:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">إِنَّ اللهَ  أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ  يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Sesungguhnya  Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’ hingga tidak seorang pun  menyombongkan diri atas yang lain dan tak seorang pun berbuat melampaui batas  terhadap yang lainnya.” (HR. Muslim no. 2865)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Berlawanan dengan  orang yang sombong, orang yang berhias dengan tawadhu’ akan menggapai kemuliaan  dari sisi Allah k, sebagaimana yang disampaikan oleh shahabat yang mulia, Abu  Hurairah z bahwa Rasulullah n bersabda:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">وَمَا تَوَاضَعَ  أَحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Dan tidaklah  seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, kecuali Allah akan mengangkatnya.”  (HR. Muslim no. 2588)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Tawadhu’ karena  Allah k ada dua makna. Pertama, merendahkan diri terhadap agama Allah, sehingga  tidak tinggi hati dan sombong terhadap agama ini maupun untuk menunaikan hukum-  hukumnya. Kedua, merendahkan diri terhadap hamba-hamba Allah k karena Allah k,  bukan karena takut terhadap mereka, ataupun mengharap sesuatu yang ada pada  mereka, namun semata-mata hanya karena Allah k. Kedua makna ini  benar.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Apabila seseorang  merendahkan diri karena Allah k, maka Allah k akan mengangkatnya di dunia dan di  akhirat. Hal ini merupakan sesuatu yang dapat disaksikan dalam kehidupan ini.  Seseorang yang merendahkan diri akan menempati kedudukan yang tinggi di hadapan  manusia, akan disebut-sebut kebaikannya, dan akan dicintai oleh manusia. (Syarh  Riyadhish Shalihin, 1/365)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Tak hanya sebatas  perintah semata, kisah-kisah dalam kehidupan Rasulullah n banyak melukiskan  ketawadhu’an beliau. Beliau n adalah seorang manusia yang paling mulia di  hadapan Allah k. Meski demikian, beliau menolak panggilan yang berlebihan bagi  beliau. Begitulah yang dikisahkan oleh Anas bin Malik z tatkala orang-orang  berkata kepada Rasulullah n, “Wahai orang yang terbaik di antara kami, anak  orang yang terbaik di antara kami! Wahai junjungan kami, anak junjungan kami!”  Beliau n pun berkata:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">يَا أَيُّهَا  النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِقَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، إِنِّي  لاَ أُرِيْدُ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيهِ اللهُ  تَعَالَى، أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ عَبْدُهُ  وَرَسُوْلُهُ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Wahai manusia,  hati-hatilah dengan ucapan kalian, jangan sampai kalian dijerumuskan oleh  syaitan. Sesungguhnya aku tidak ingin kalian mengangkatku di atas kedudukan yang  diberikan oleh Allah ta’ala bagiku. Aku ini Muhammad bin ‘Abdillah, hamba-Nya  dan utusan-Nya.” (HR. An- Nasa`i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, dikatakan dalam  Ash-Shahihul Musnad fi Asy-Syamail Muhammadiyah no. 786: hadits shahih menurut  syarat Muslim)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Anas bin Malik z  mengisahkan:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">كَانَ رَسُولُ  اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُوْرُ اْلأَنْصَارَ فَيُسَلِّمُ عَلَى  صِبْيَانِهِمْ وَيَمْسَحُ بِرُؤُوْسِهِمْ وَيَدْعُو لَهُمْ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Rasulullah n  biasa mengunjungi orang-orang Anshar, lalu mengucapkan salam pada anak-anak  mereka, mengusap kepala mereka dan mendoakannya.” (HR An. Nasa`i, dikatakan  dalam Ash- Shahihul Musnad fi Asy-Syamail Muhammadiyah no. 796: hadits  hasan)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ketawadhu’an  Rasulullah n ini menjadi gambaran nyata yang diteladani oleh para shahabat. Anas  bin Malik z pernah melewati anak-anak, lalu beliau mengucapkan salam pada  mereka. Beliau n mengatakan:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">كَانَ النَّبِيُّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Nabi n biasa  melakukan hal itu.” (HR. Al-Bukhari no. 6247 dan Muslim no.  2168)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Memberikan salam  kepada anak-anak ini dilakukan oleh Nabi n dan diikuti pula oleh para shahabat  beliau g. Hal ini merupakan sikap tawadhu’ dan akhlak yang baik, serta termasuk  pendidikan dan pengajaran yang baik, serta bimbingan dan pengarahan kepada  anak-anak, karena anak-anak apabila diberi salam, mereka akan terbiasa dengan  hal ini dan menjadi sesuatu yang tertanam dalam jiwa mereka.(Syarh Riyadhish  Shalihin, 1/366-367)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Pernah pula Abu  Rifa’ah Tamim bin Usaid zmenuturkan sebuah peristiwa yang memberikan gambaran  ketawadhu’an Nabi n serta kasih sayang dan kecintaan beliau terhadap kaum  muslimin:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">اِنْتَهَيْتُ  إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ، فَقُلْتُ :  يَا رَسُولَ اللهِ، رَجُلٌ غَرِيْبٌ جَاءَ يَسْأَلُ عَنْ دِيْنِهِ لاَ يَدْرِي مَا  دِيْنُهُ؟ فَأَقْبَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  وَتَرَكَ خُطْبَتَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَيَّ فَأُتِيَ بِكُرْسِيٍّ، فَقَعَدَ  عَلَيْهِ، وَجَعَلَ يُعَلِّمُنِي مِمَّا عَلَّمَهُ اللهُ، ثُمَّ أَتَى خُطْبَتَهُ  فَأَتَمَّ آخِرَهَا</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Aku pernah  datang kepada Rasulullah n ketika beliau berkhutbah. Lalu aku berkata, ‘Wahai  Rasulullah, seorang yang asing datang padamu untuk bertanya tentang agamanya,  dia tidak mengetahui tentang agamanya.’ Maka Rasulullah n pun mendatangiku,  kemudian diambilkan sebuah kursi lalu beliau duduk di atasnya. Mulailah beliau  mengajarkan padaku apa yang diajarkan oleh Allah. Kemudian beliau kembali  melanjutkan khutbahnya hingga selesai.” (HR. Muslim no. 876)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Begitu banyak  anjuran maupun kisah kehidupan Rasulullah n yang melukiskan ketawadhu’an beliau.  Demikian pula dari para shahabat g. Tinggallah kembali pada diri ayah dan ibu.  Jalan manakah kiranya yang hendak mereka pilihkan bagi buah hatinya? Mengajarkan  kerendahan hati hingga mendapati kebahagiaan di dua negeri, ataukah menanamkan  benih kesombongan hingga menuai kehinaan di dunia dan  akhirat?</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Wallahu ta’ala  a’lamu bish-shawab.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">1 Thinatul khabal  adalah keringat atau perasan dari penduduk neraka.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">2 Hullah adalah  pakaian yang terdiri dari dua potong baju.</span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafyonly.wordpress.com/73/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafyonly.wordpress.com/73/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafyonly.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafyonly.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafyonly.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafyonly.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafyonly.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafyonly.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafyonly.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafyonly.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafyonly.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafyonly.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafyonly.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafyonly.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafyonly.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafyonly.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=73&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/menebar-keangkuhan-menuai-kehinaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0f837da578f7d306ee4326fc0fed6e9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafyonly</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>LIHATLAH, SIAPA TEMANMU&#8230;!</title>
		<link>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/lihatlah-siapa-temanmu/</link>
		<comments>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/lihatlah-siapa-temanmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jul 2007 21:18:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafyonly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[asysyariah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[DarusSalaf]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[thullabul-ilmiy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/lihatlah-siapa-temanmu/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ketahuilah, bahwasannya tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya, tetapi dia harus mampu memilih kriteria-kriteria orang yang dijadikannya teman, baik dari segi sifat-sifatnya, perangai-perangainya atau lainnya yang bisa menimbulkan gairah berteman sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari persahabatan tersebut itu. Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia, seperti karena harta, kedudukan atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=72&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Ketahuilah,  bahwasannya tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya,  tetapi dia harus mampu memilih kriteria-kriteria orang yang dijadikannya teman,  baik dari segi sifat-sifatnya, perangai-perangainya atau lainnya yang bisa  menimbulkan gairah berteman sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari  persahabatan tersebut itu.</span></font><span id="more-72"></span><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"> Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia,  seperti karena harta, kedudukan atau sekedar senang melihat- lihat dan bisa  ngobrol saja, tetapi itu bukan tujuan kita.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Apabila engkau  berada di tengah-tengah suatu kaum maka pililhlah orang-orang yang balk sebagai  sahabat, dan janganlah engkau bersahabat dengan orang-orang jahat sehingga  engkau akan binasa bersamanya&#8221;</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Wanita adalah  bagian dari kehidupan manusia, sehingga dia tak akan pernah lepas dari pola  interaksi dengan sesama. Terlebih dominasi perasaan yang melekat pada dirinya,  membuat dia butuh teman tempat mengadu, tempat bertukar pikiran dan  bermusyawarah. Berbagai problem hidup yang dialami menjadikan dia berfikir  bahwa, meminta pendapat, saran dan nasehat teman adalah suatu hal yang perlu.  Maka teman sangat vital bagi kehidupannya, siapa sih yang tidak butuh teman  dalam hidup ini..?.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Namun wanita  muslimah adalah wanita yang dipupuk dengan keimanan dan dididik dengan pola  interaksi Islami. Maka pandangan Islam dalam memilih teman adalah barometernya,  karena dirinya sadar, teman yang baik (shalihah) memiliki pengaruh besar dalam  menjaga keistiqomahan agamanya. Selain itu teman shalihah adalah sebenar-benar  teman yang akan membawa mashlahat dan manfaat. Maka dalam pergaulannya dia akan  memilih teman yang baik dan shalihah, yang benar-benar memberikan kecintaan yang  tulus, selalu memberi nasihat, tidak curang dan menunjukan kebaikan. Karena  bergaul dengan wanita-wanita shalihah dan menjadikannya sebagai teman selalu  mendatangkan manfaat dan pahala yang besar, juga akan membuka hati untuk  menerima kebenaran. maka kebanyakan teman akan jadi teladan bagi temannya yang  lain dalam akhlak dan tingkah lake. Seperti ungkapan &#8220;Janganlah kau tanyakan  seseorang pada orangnya, tapi tanyakan pada temannya. karena setiap orang  mengikuti temannya&#8221;.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Bertolak dari  sinilah maka wanita muslimah senantiasa dituntut untuk dapat memilih teman, juga  lingkungan pergaulan yang tak akan menambah dirinya melainkan ketakwaan dan  keluhuran jiwa. Sesungguhnya Rasulullah juga telah menganjurkan untuk memilih  teman yang baik (shalihah) dan berhati-hati dari teman yang  jelek.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Hal ini telah  dimisalkan oleh Rasulullah melalui ungkapannya:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Sesungguhnya  perumpamaan teman yang baik (shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti  pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin  akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau menibeli darinya atau engkau  hanya akan mencium aroma harmznya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin  akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak  sedap&#8221;.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">(Riwayat Bukhari,  kitab Buyuu&#8217;, Fathul Bari 4/323 dan Muslim kitab Albir  4/2026)1</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dari petunjuk  agamanya, wanita muslimah akan mengetahui bahwa teman itu ada dua macam.  Pertama, teman yang shalihah, dia laksana pembawa minyak wangi yang menyebarkan  aroma harum dan wewangian. Kedua teman yang jelek laksana peniup api pandai  besi, orang yang disisinya akan terkena asap, percikan api atau sesak nafas,  karena bau yang tak enak.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Maka alangkah  bagusnya nasehat Bakr bin Abdullah Abu Zaid, ketika baliau berkata,&#8221; Hati-  ¬hatilah dari teman yang jelek &#8230;!, karena sesungguhnya tabiat itu suka meniru,  dan manusia seperti serombongan burung yang mereka diberi naluri untuk meniru  dengan yang lainnya. Maka hati-hatilah bergaul dengan orang yang seperti itu,  karena dia akan celaka, hati- hatilah karena usaha preventif lebih mudah dari  pada mengobati &#8220;.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Maka  pandai-pandailah dalam memilih teman, carilah orang yang bisa membantumu untuk  mencapai apa yang engkau cari . Dan bisa mendekatkan diri pada Rabbmu, bisa  memberikan saran dan petunjuk untuk mencapai tujuan muliamu.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Maka  perhatikanlah dengan detail teman-¬temanmu itu, karena teman ada  bermacam-macam</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">• ada teman yang  bisa memberikan manfaat</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">• ada teman yang  bisa memberikan kesenangan (kelezatan)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">• dan ada yang  bisa memberikan keutamaan.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Adapun dua jenis  yang pertama itu rapuh dan mudah terputus karena terputus sebab-sebabnya. Adapun  jenis ketiga, maka itulah yang dimaksud persahabatan sejati. Adanya interaksi  timbal balik karena kokohnya keutamaan masing-masing keduanya. Namun jenis ini  pula yang sulit dicari. (Hilyah Tholabul &#8216;ilmi, Bakr Abdullah Abu Zaid halarnan  47-48)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Memang tidak akan  pernah lepas dari benak hati wanita muslimah yang benar-benar sadar pada saat  memilih teman, bahwa manusia itu seperti barang tambang, ada kualitasnya bagus  dan ada yang jelek. Demikian halnya manusia, seperti dijelaskan Rasulullah  Shalallahu’alaihi Wassallam :</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8221; Manusia itu  adalah barang tambang seperti emas dan perak, yang paling baik diantara mereka  pada zaman jahiliyyah adalah yang paling baik pada zaman Islam jika mereka  mengerti. Dan ruh- ruh itu seperti pasukan tentara yang dikerahkan, yang saling  kenal akan akrab dan yang tidak dikenal akan dijauhi &#8221; (Riwayat  Muslim)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Wanita muslimah  yang jujur hanya akan sejalan dengan wanita-wanita shalihah, bertakwa dan  berakhlak mulia, sehingga tidak dengan setiap orang dan sembarang orang dia  berteman, tetapi dia memilih dan melihat siapa temannya. Walaupun memang, jika  kita mencari atau memilih teman yang benar-benar bersih sama sekali dari aib,  tentu kita tidak akan mendapatkannya. Namun, seandainya kebaikannya itu lebih  banyak daripada sifat jeleknya, itu sudah mencukupi.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Maka Syaikh Ahmad  bin &#8216;Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi atau terkenal dengan nama Ibnu Qudamah  AlMaqdisi memberikan nasehatnya juga dalam memilih teman: &#8220;Ketahuilah,  bahwasannya tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya,  tetapi dia harus mampu memilih kriteria¬-kriteria orang yang dijadikannya teman,  baik dari segi sifat- sifatnya, perangai-perangainya atau lainnya yang bisa  menimbulkan gairah berteman sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari  persahabatan tersebut itu. Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia,  seperti karena harta, kedudukan atau sekedar senang melihat-lihat dan bisa  ngobrol saja, tetapi itu bukan tujuan kita.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ada pula orang  yang berteman karena kepentingan Dien (agama), dalarn hal inipun ada yang karena  ingin mengambil faidah dari ilmu dan amalnya, karena kemuliaannya atau karena  mengharap pertolongan dalam berbagai kepentingannya. Tapi, kesimpulan dari semua  itu orang yang diharapkan jadi teman hendaklah memenuhi lima kriteria berikut;  Dia cerdas (berakal), berakhlak baik, tidak fasiq, bukan ahli bid&#8217;ah dan tidak  rakus dunia. Mengapa harus demikian ?, karena kecerdasan adalah sebagai modal  utama, tak ada kabaikan jika berteman dengan orang dungu, karena terkadang ia  ingin menolongmu tapi malah mencelakakanmu. Adapun orang yang berakhlak baik,  itu harus. Karena terkadang orang yang cerdaspun kalau sedang marah atau  dikuasai emosi, dia akan menuruti hawa nafsunya. Maka tak baik pula berteman  dengan orang cerdas tetapi tidak berahlak. Sedangkan orang fasiq, dia tidak  punya rasa takut kepada Allah. Dan barang siapa tidak takut pada Allah, maka  kamu tidak akan aman dari tipu daya dan kedengkiannya, Dia juga tidak dapat  dipercaya. Kalau ahli bid&#8217;ah jika kita bergaul dengannya dikhawatirkan kita akan  terpengaruh dengan jeleknya kebid&#8217;ahannya itu. (Mukhtasor Minhajul Qasidin, Ibnu  Qudamah hal 99).</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Maka wanita  muslimah yang benar-benar sadar dan mendapat pancaran sinar agama, tidak akan  merasa terhina akibat bergaul dengan wanita-wanita shalihah meskipun secara  lahiriyah, status sosial clan tingkat materinya tidak setingkat. Yang menjadi  patokan adalah substansi kepribadiannya dan bukan penampilan dan kekayaan atau  lainnya. &#8220;Pergaulan anda dengan orang mulia menjadikan anda termasuk golongan  mereka, karenanya janganlah engkau mau bersahabat dengan selain  mereka&#8221;.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Oleh karena itu  datang petunjuk Al Qur&#8217;an yang menyerukan hal itu :</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Dan bersabarlah  kamu bersama dengan orang¬-orang yang menyeru Rabbnya dipagi dan disenja hari  dengan mengharap keridhoan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka  karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti  orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa  nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas&#8221;</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">(Al-Kahfi:28)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Footnote:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">1.Al Bid&#8217;ah, Dr.  Ali bin M. Nashir</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Maraji  :</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">• Hilyah tolabul  &#8216;ilmi, Bakr Abdullah Abu Zaed</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">• Mukhtasor  Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">• Bid&#8217;ah  dhowabituha wa atsaruhas Sayyisil Ummah,</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dr. Ali Muhammad  Nashir AlFaqih</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">• Sahsiyah  Mar&#8217;ah, Dr M.Ali Al Hasyimi</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dikutip dari  Buletin Dakwah Al-Atsari, Cileungsi Edisi X Sha’ban 1419</span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafyonly.wordpress.com/72/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafyonly.wordpress.com/72/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafyonly.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafyonly.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafyonly.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafyonly.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafyonly.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafyonly.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafyonly.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafyonly.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafyonly.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafyonly.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafyonly.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafyonly.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafyonly.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafyonly.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=72&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/lihatlah-siapa-temanmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0f837da578f7d306ee4326fc0fed6e9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafyonly</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akankah Amalku Di Terima ?</title>
		<link>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/akankah-amalku-di-terima/</link>
		<comments>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/akankah-amalku-di-terima/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jul 2007 21:15:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafyonly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[asysyariah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[DarusSalaf]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[thullabul-ilmiy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/akankah-amalku-di-terima/</guid>
		<description><![CDATA[Beramal shalih memang penting karena merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang. Namun yang tak kalah penting adalah mengetahui persyaratan agar amal tersebut diterima di sisi Allah. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan justru membuat Allah murka karena tidak memenuhi syarat yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Dalam mengarungi lautan hidup ini, banyak duri dan kerikil yang harus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=71&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Beramal shalih  memang penting karena merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang. Namun yang  tak kalah penting adalah mengetahui persyaratan agar amal tersebut diterima di  sisi Allah. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan justru membuat Allah murka  karena tidak memenuhi syarat yang Allah dan Rasul-Nya  tetapkan.</span></font></p>
<p align="left"><span id="more-71"></span></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalam mengarungi  lautan hidup ini, banyak duri dan kerikil yang harus kita singkirkan satu demi  satu. Demikianlah sunnatullah yang berlaku pada hidup setiap orang. Di antara  manusia ada yang berhasil menyingkirkan duri dan kerikil itu sehingga selamat di  dunia dan di akhirat. Namun banyak yang tidak mampu menyingkirkannya sehingga  harus terkapar dalam kubang kegagalan di dunia dan akhirat.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kerikil dan  duri-duri hidup memang telalu banyak. Maka, untuk menyingkirkannya membutuhkan  waktu yang sangat panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit. Kita takut kalau  seandainya kegagalan hidup itu berakhir dengan murka dan neraka Allah  Subhanahuwata&#8217;ala. Akankah kita bisa menyelamatkan diri lagi, sementara  kesempatan sudah tidak ada? Dan akankah ada yang merasa kasihan kepada kita  padahal setiap orang bernasib sama?</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sebelum semua itu  terjadi, kini kesempatan bagi kita untuk menjawabnya dan berusaha menyingkirkan  duri dan kerikil hidup tersebut. Tidak ada cara yang terbaik kecuali harus  kembali kepada agama kita dan menempuh bimbingan Allah Subhanahuwata&#8217;ala dan  Rasul-Nya. Allah Subhanahuwata&#8217;ala telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa  satu-satunya jalan itu adalah dengan beriman dan beramal kebajikan. Allah  berfirman:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Demi masa.  Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan  beramal shaleh, dan orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan dan saling  menasehati dalam kesabaran.” (Al ’Ashr: 1-3)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sumpah Allah  Subhanahuwata&#8217;ala dengan masa menunjukkan bahwa waktu bagi manusia sangat  berharga. Dengan waktu seseorang bisa memupuk iman dan memperkaya diri dengan  amal shaleh. Dan dengan waktu pula seseorang bisa terjerumus dalam  perkara-perkara yang di murkai Allah Subhanahuwata&#8217;ala. Empat perkara yang  disebutkan oleh Allah Subhanahuwata&#8217;ala di dalam ayat ini merupakan tanda  kebahagiaan, kemenangan, dan keberhasilan seseorang di dunia dan di  akhirat.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Keempat perkara  inilah yang harus dimiliki dan diketahui oleh setiap orang ketika harus  bertarung dengan kuatnya badai kehidupan. Sebagaimana disebutkan Syaikh Muhammad  Abdul Wahab dalam kitabnya Al Ushulu Ats Tsalasah dan Ibnu Qoyyim dalam Zadul  Ma’ad (3/10), keempat perkara tersebut merupakan kiat untuk menyelamatkan diri  dari hawa nafsu dan melawannya ketika kita dipaksa terjerumus ke dalam  kesesatan.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Iman Adalah  Ucapan dan Perbuatan</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Mengucapkan “Saya  beriman”, memang sangat mudah dan ringan di mulut. Akan tetapi bukan hanya  sekedar itu kemudian orang telah sempurna imannya. Ketika memproklamirkan  dirinya beriman, maka seseorang memiliki konsekuensi yang harus dijalankan dan  ujian yang harus diterima, yaitu kesiapan untuk melaksanakan segala apa yang  diperintahkan Allah dan Rasul-Nya baik berat atau ringan, disukai atau tidak  disukai.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Konsekuensi iman  ini pun banyak macamnya. Kesiapan menundukkan hawa nafsu dan mengekangnya untuk  selalu berada di atas ridha Allah termasuk konsekuensi iman. Mengutamakan apa  yang ada di sisi Allah dan menyingkirkan segala sesuatu yang akan menghalangi  kita dari jalan Allah juga konsekuensi iman. Demikian juga dengan memperbudak  diri di hadapan Allah dengan segala unsur pengagungan dan  kecintaan.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Mengamalkan  seluruh syariat Allah juga merupakan konsekuensi iman. Menerima apa yang  diberitakan oleh Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam tentang  perkara-perkara gaib dan apa yang akan terjadi di umat beliau merupakan  konsekuensi iman. Meninggalkan segala apa yang dilarang Allah dan Rasulullah  Sholallohualaihiwasallam juga merupakan konsekuensi iman. Memuliakan orang-orang  yang melaksanakan syari’at Allah, mencintai dan membela mereka, merupakan  konsekuensi iman. Dan kesiapan untuk menerima segala ujian dan cobaan dalam  mewujudkan keimanan tersebut merupakan konsekuensi dari iman itu  sendiri.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah berfirman  di dalam Al Qur’an:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Alif lam mim.  Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan kami telah  beriman lalu mereka tidak diuji. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang  sebelum mereka agar Kami benar-benar mengetahui siapakah di antara mereka yang  benar-benar beriman dan agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang  berdusta.” (Al Ankabut: 1-3)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Imam As Sa’dy  dalam tafsir ayat ini mengatakan: ”Allah telah memberitakan di dalam ayat ini  tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk dari hikmah-Nya bahwa setiap orang  yang mengatakan “aku beriman” dan mengaku pada dirinya keimanan, tidak dibiarkan  berada dalam satu keadaan saja, selamat dari segala bentuk fitnah dan ujian dan  tidak ada yang akan mengganggu keimanannya. Karena kalau seandainya perkara  keimanan itu demikian (tidak ada ujian dan gangguan dalam keimanannya), niscaya  tidak bisa dibedakan mana yang benar-benar beriman dan siapa yang berpura-pura,  serta tidak akan bisa dibedakan antara yang benar dan yang  salah.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Rasulullah  Sholallohualaihiwasallam bersabda:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Orang yang  paling keras cobaannya adalah para nabi kemudian setelah mereka kemudian setelah  mereka” (HR. Imam Tirmidzi dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri dan Sa’ad bin Abi  Waqqas Radhiyallahu ‘Anhuma dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam  Shahihul Jami’ no.992 dan 993)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ringkasnya, iman  adalah ucapan dan perbuatan. Yaitu, mengucapkan dengan lisan serta beramal  dengan hati dan anggota badan. Dan memiliki konsekuensi yang harus diwujudkan  dalam kehidupan, yaitu amal.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Amal</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Amal merupakan  konsekuensi iman dan memiliki nilai yang sangat positif dalam menghadapi  tantangan hidup dan segala fitnah yang ada di dalamnya. Terlebih jika seseorang  menginginkan kebahagiaan hidup yang hakiki. Allah Subhanahuwata&#8217;ala telah  menjelaskan hal yang demikian itu di dalam Al Qur’an:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Bersegeralah  kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan kepada surga yang seluas langit dan  bumi yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah.” (Ali  Imran:133)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Imam As Sa’dy  mengatakan dalam tafsirnya halaman 115: “Kemudian Allah Subhanahuwata&#8217;ala  memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan-Nya dan menuju surga seluas langit  dan bumi. Lalu bagaimana dengan panjangnya yang telah dijanjikan oleh Allah  Subhanahuwata&#8217;ala kepada orang-orang yang bertakwa, merekalah yang pantas  menjadi penduduknya dan amalan ketakwaan itu akan menyampaikan kepada  surga.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Jelas melalui  ayat ini, Allah Subhanahuwata&#8217;ala menyeru hamba-hamba-Nya untuk bersegera menuju  amal kebajikan dan mendapatkan kedekatan di sisi Allah, serta bersegera pula  berusaha untuk mendapatkan surga-Nya. Lihat Bahjatun Nadzirin  1/169</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah  berfirman:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Berlomba-lombalah kalian dalam kebajikan” (Al Baqarah:  148)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalam tafsirnya  halaman 55, Imam As Sa’dy mengatakan: “Perintah berlomba-lomba dalam kebajikan  merupakan perintah tambahan dalam melaksanakan kebajikan, karena berlomba- lomba  mencakup mengerjakan perintah tersebut dengan sesempurna mungkin dan  melaksanakannya dalam segala keadaan dan bersegera kepadanya. Barang siapa yang  berlomba-lomba dalam kebaikan di dunia, maka dia akan menjadi orang pertama yang  masuk ke dalam surga kelak pada hari kiamat dan merekalah orang yang paling  tinggi kedudukannya.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalam ayat ini,  Allah dengan jelas memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera dan berlomba-lomba  dalam amal shalih. Rasulullah Sholallohualaihiwasallam  bersabda:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Bersegeralah  kalian menuju amal shaleh karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan  gelapnya malam, di mana seorang mukmin bila berada di waktu pagi dalam keadaan  beriman maka di sore harinya menjadi kafir dan jika di sore hari dia beriman  maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan dia melelang agamanya dengan harta  benda dunia.” (Shahih, HR Muslim no.117 dan Tirmidzi)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalam hadits ini  terdapat banyak pelajaran, di antaranya kewajiban berpegang dengan agama Allah  dan bersegera untuk beramal shaleh sebelum datang hal-hal yang akan menghalangi  darinya. Fitnah di akhir jaman akan datang silih berganti dan ketika berakhir  dari satu fitnah muncul lagi fitnah yang lain. Lihat Bahjatun Nadzirin  1/170</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Karena kedudukan  amal dalam kehidupan begitu besar dan mulia, maka Allah Subhanahuwata&#8217;ala  memerintahkan kita untuk meminta segala apa yang kita butuhkan dengan amal  shaleh. Allah berfirman di dalam Al Quran:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Hai orang-orang  yang beriman, mintalah tolong (kepada Allah) dengan penuh kesabaran dan shalat.  Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (Al  Baqarah:153)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Lalu, kalau kita  telah beramal dengan penuh keuletan dan kesabaran apakah amal kita pasti  diterima?</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Syarat Diterima  Amal</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Amal yang akan  diterima oleh Allah Subhanahuwata&#8217;ala memiliki persyaratan-persyaratan yang  harus dipenuhi. Hal ini telah disebutkan Allah Subhanahuwata&#8217;ala sendiri di  dalam kitab-Nya dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam di dalam haditsnya.  Syarat amal itu adalah sebagai berikut:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Pertama, amal  harus dilaksanakan dengan keikhlasan semata-mata mencari ridha Allah  Subhanahuwata&#8217;ala.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah  Subhanahuwata&#8217;ala berfirman;</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dan tidaklah  mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan baginya  agama yang lurus”. (Al Bayyinah: 5)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Rasulullah  Sholallohualaihiwasallam bersabda:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Sesungguhnya  amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai  dengan niatnya.” (Shahih, HR Bukhari-Muslim)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kedua dalil ini  sangat jelas menunjukkan bahwa dasar dan syarat pertama diterimanya amal adalah  ikhlas, yaitu semata-mata mencari wajah Allah Subhanahuwata&#8217;ala. Amal tanpa  disertai dengan keikhlasan maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah  Subhanahuwata&#8217;ala.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kedua, amal  tersebut sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rasulullah Sholallohualaihiwasallam.  Beliau bersabda:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Dan barang siapa  yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan  tersebut tertolak.” (Shahih, HR Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu  ‘anha)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dari dalil-dalil  di atas para ulama sepakat bahwa syarat amal yang akan diterima oleh Allah  Subhanahuwata&#8217;ala adalah ikhlas dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah  Sholallohualaihiwasallam. Jika salah satu dari kedua syarat tersebut tidak ada,  maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata&#8217;ala. Dari sini  sangat jelas kesalahan orang-orang yang mengatakan “ Yang penting kan niatnya.”  Yang benar, harus ada kesesuaian amal tersebut dengan ajaran Rasulullah  Sholallohualaihiwasallam. Jika istilah “yang penting niat” itu benar niscaya  kita akan membenarkan segala perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahuwata&#8217;ala  dengan dalil yang penting niatnya. Kita akan mengatakan para pencuri, penzina,  pemabuk, pemakan riba’, pemakan harta anak yatim, perampok, penjudi, penipu,  pelaku bid’ah (perkara- perkara yang diadakan dalam agama yang tidak ada  contohnya dari Rasululah r ) dan bahkan kesyirikan tidak bisa kita salahkan,  karena kita tidak mengetahui bagaimana niatnya. Demikian juga dengan seseorang  yang mencuri dengan niat memberikan nafkah kepada anak dan  isterinya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Apakah seseorang  melakukan bid’ah dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahuwata&#8217;ala adalah  benar? Apakah orang yang meminta kepada makam wali dengan niat memuliakan wali  itu adalah benar? Tentu jawabannya adalah tidak.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dari pembahasan  di atas sangat jelas kedudukan dua syarat tersebut dalam sebuah amalan dan  sebagai penentu diterimanya. Oleh karena itu, sebelum melangkah untuk beramal  hendaklah bertanya pada diri kita: Untuk siapa saya beramal? Dan bagaimana  caranya? Maka jawabannya adalah dengan kedua syarat di atas.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Masalah  berikutnya, juga bukan sekedar memperbanyak amal, akan tetapi benar atau  tidaknya amalan tersebut. Allah Subhanahuwata&#8217;ala berfirman:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Dia Allah yang  telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapakah yang paling bagus  amalannya.” (Al Mulk: 2)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Muhammad bin  ‘Ajlan berkata: “Allah Subhanahuwata&#8217;ala tidak mengatakan yang paling banyak  amalnya.” Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/396</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah  Subhanahuwata&#8217;ala mengatakan yang paling baik amalnya dan tidak mengatakan yang  paling banyak amalnya, yaitu amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai  dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam, sebagaimana yang telah  diucapkan oleh Imam Hasan Bashri.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kedua syarat di  atas merupakan makna dari kalimat Laa ilaaha illallah –  Muhammadarrasulullah.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Wallahu  a’lam.</span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafyonly.wordpress.com/71/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafyonly.wordpress.com/71/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafyonly.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafyonly.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafyonly.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafyonly.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafyonly.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafyonly.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafyonly.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafyonly.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafyonly.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafyonly.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafyonly.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafyonly.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafyonly.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafyonly.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=71&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/akankah-amalku-di-terima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0f837da578f7d306ee4326fc0fed6e9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafyonly</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SIAPAKAH AHLI SYURA (Bagian II)</title>
		<link>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/siapakah-ahli-syura-bagian-ii/</link>
		<comments>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/siapakah-ahli-syura-bagian-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jul 2007 21:15:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafyonly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[asysyariah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[DarusSalaf]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[thullabul-ilmiy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/siapakah-ahli-syura-bagian-ii/</guid>
		<description><![CDATA[“Seorang yang diminta musyawarahnya adalah orang yang dipercaya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihul Jami’ no. 6700. Lihat pula Ash-Shahihah no.1641) Hadits ini mengisyaratkan bahwa ahli syura haruslah orang yang amanah karena tidak mungkin seorang yang tidak amanah akan dipercaya. Dalam firman Allah kepada Nabi-Nya (artinya): “Maka bermusyawarahlah dengan mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=70&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Seorang yang  diminta musyawarahnya adalah orang yang dipercaya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu  Majah, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihul Jami’ no. 6700. Lihat pula  Ash-Shahihah no.1641)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Hadits ini  mengisyaratkan bahwa ahli syura haruslah orang yang amanah karena tidak mungkin  seorang yang tidak amanah akan dipercaya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalam firman  Allah kepada Nabi-Nya (artinya): “Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam  urusan itu.” (Ali Imran: 159). Ibnu Abbas mengatakan: “Maksudnya dengan Abu Bakr  dan ‘Umar.” (Sanadnya shahih diriwayatkan oleh An-Nahhas dalam An-Nasikh wal  Mansukh, dan Al-Hakim dan dishahihkan oleh beliau dan oleh Adz-Dzahabi. Lihat  Madarikun Nazhar, hal. 289).</span></font><span id="more-70"></span></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Demikianlah  beliau  bermusyawarah dengan Abu Bakr dan Umar dalam masalah tawanan perang  Badr dan dalam masalah lainnya. Juga dengan Ali bin Abi Thalib dalam masalah  Ifk-yaitu tuduhan zina kepada ‘Aisyah (Shahih Al-Bukhari no. 7369) dan juga  shahabat yang lain. Yang jelas, Nabi tidak mengajak musyawarah kepada seluruh  para shahabatnya dalam setiap hal. Akan tetapi memilih mereka yang pantas dalam  perkara tersebut.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ahli syura Abu  Bakr, Maimun bin Mihran mengatakan: ”Bahwa Abu Bakr jika mendapati sebuah  masalah maka beliau melihat kepada Kitabullah. Jika beliau beliau mendapatkan  sesuatu yang memutuskan perkara itu, maka beliau putuskan dengannya. Dan jika  beliau mengetahuinya dari Sunnah Nabi, maka beliaupun memutuskan dengannya. Bila  tidak beliau ketahui, beliau keluar kepada kaum muslimin dan bertanya kepada  mereka tentang Sunnah Nabi (pada perkara yang tersebut). Dan bila hal itu tidak  mampu (menyelesaikan), maka beliau panggil tokoh-tokoh kaum muslimin dan para  ulama mereka lalu beliau bermusyawarah dengan mereka.” (Ibnu Hajar mengatakan:  “Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih.” Lihat Fathul Bari,  13/342)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ahli syura ‘Umar  bin Al-Khaththab, Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Para qurra adalah orang-orang  majelisnya ‘Umar dan ahli syuranya, baik yang tua maupun yang muda.” (Shahih,  HR. Al-Bukhari no. 7286, lihat Fathul Bari, 13/250). Ibnu Hajar mengatakan:  “Al-Qurra maksudnya para ulama yang ahli ibadah.” (Lihat Fathul Bari,  13/258)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Di antara mereka  adalah Abdullah bin Abbas sendiri, sebagaimana beliau kisahkan: “Umar memasukkan  aku bersama orang-orang tua yang pernah ikut perang Badr, maka seolah-olah  sebagian mereka marah dan mengatakan: ‘Mengapa ‘Umar memasukkan pemuda ini  bersama kita padahal kita pun punya anak-anak semacam dia’. Maka ‘Umar  mengatakan: ‘Hal itu berdasarkan apa yang kalian ketahui (yakni bahwa dia dari  keluarga Nabi dan dari sumber ilmu)’.” (HR. Al-Bukhari, 6/28, lihat Bahjatun  Nazhirin, 1/195)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Riwayat ini  menunjukkan bahwa pada majelis syuranya Umar adalah para shahabat ahli Badr  karena mereka lebih utama daripada yang lain. Kemudian ‘Umar mengikutkan Ibnu  ‘Abbas bersama mereka karena ilmu beliau bahkan melebihi sebagian shahabat ahli  Badr karena beliau didoakan oleh Nabi: “Ya Allah, pahamkan dia tentang agama dan  ajari dia takwil.” (Madarikun Nazhar, hal. 162)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalam kejadian  lain, Ibnu Abbas mengatakan: “Ketika itu, saya berada di tempat singgahnya  Abdurrahman bin ‘Auf di Mina dan beliau disisi Umar, dalam sebuah haji yang  merupakan akhir hajinya. Abdurrahman mengarahkan pertanyaan kepada saya: ‘(Apa  pendapatmu) jika kamu melihat seseorang datang kepada amirul mukminin (Umar bin  Al-Khaththab) hari ini lalu ia mengatakan: ‘Wahai amirul mukminin, apakah anda  melakukan sesuatu pada fulan yang mengatakan: ‘Seandainya Umar telah meninggal  maka aku akan membai’at fulan. Demi Allah, tidaklah bai’atnya Abu Bakr dahulu  kecuali hanya sesaat lalu langsung sempurna.’ Maka (mendengar laporan itu) Umar  marah lalu mengatakan: ‘Sungguh saya insya Allah akan berdiri sore ini di  hadapan manusia dan akan memperingatkan mereka dari orang-orang itu yang ingin  merampas urusan mereka’. Maka Abdurrahman mengatakan: ‘Wahai amirul mukminin  jangan kau lakukan! Karena musim haji ini menampung orang-orang hina (juga),  sesungguhnya merekalah yang akan lebih banyak dekat denganmu disaat kamu berdiri  di hadapan mereka. Dan saya khawatir jika engkau bangkit dan mengucapkan sebuah  ucapan lalu dibawa terbang oleh setiap yang terbang, mereka tidak memahaminya  dan tidak mendudukkan pada tempatnya. Maka tundalah hingga engkau pulang ke  Madinah karena Madinah adalah rumah hijrah dan (rumah) As Sunnah sehingga engkau  dapat mengkhususkan ahli fiqh dan tokoh-tokoh masyarakat, lalu kamu katakan apa  yang mungkin kamu katakan sehingga ahlul ilmi akan memahami ucapanmu dan  menempatkannya pada tempatnya’.” (Riwayat Al-Bukhari. Lihat Madarikun Nazhar,  hal. 163)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Setelah  terjadinya usaha pembunuhan terhadap Umar dan Umar pun sudah merasa dekat  ajalnya, dia menyerahkan urusan kepemimpinan ini kepada enam orang shahabat. Dan  dikatakan kepada beliau: “Berwasiatlah wahai amirul mukminin, berwasiatlah!  Tunjuklah khalifah.” Jawabnya: “Saya tidak mendapati orang yang lebih berhak  terhadap perkara ini (kekhilafahan) lebih dari orang-orang itu, yang Rasulullah  meninggal dalam keadaan ridha terhadap mereka.” Lalu beliau menyebut Ali,  Utsman, Az-Zubair, Thalhah, Sa’ad dan Abdurrahman. (Shahih, riwayat Al-Bukhari  no. 3700, dengan Fathul Bari, 7/59). Umar menyerahkan urusan ini hanya kepada 6  orang shahabat yang memiliki sifat tersebut, padahal saat itu para shahabat  berjumlah lebih dari 10 ribu orang. (Madarikun Nazhar, hal.  165)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Al-Bukhari  mengatakan: “Dan para imam setelah Nabi wafat bermusyawarah pada hal-hal yang  mubah dengan para ulama yang amanah untuk mengambil yang paling mudah. Dan jika  jelas bagi mereka Al-Qur’an maupun As Sunnah, maka mereka tidak melampauinya  untuk (kemudian) mengambil selainnya. Hal itu dalam rangka meneladani Nabi…”  (Shahih Al-Bukhari, 13/339-340 dengan Fathul Bari. Lihat pula hal. 342 baris  18)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Al-Imam  Asy-Syafi’i mengatakan: “Janganlah dia bermusyawarah jika terjadi suatu masalah  kecuali dengan orang yang amanah, berilmu dengan Al Qur’an dan As Sunnah dan  riwayat- riwayat dari shahabat dan setelahnya, serta berilmu tentang  pendapat-pendapat para ulama, qiyas, dan bahasa Arab.” (Mukhtashar Al-Muzani,  dari Madarikun Nazhar, hal. 176)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ibnu At-Tin  menukilkan dari Asyhab, seorang murid dari Al-Imam Malik, bahwa Al-Imam Malik  mengatakan: “Semestinya seorang pemimpin menjadikan seseorang yang menerangkan  kepadanya tentang keadaan masyarakatnya disaat dia sendirian. Dan hendaknya  orang tersebut orang yang bisa dipercaya, amanah, cerdas dan bijaksana.” (Fathul  Bari, 13/190)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sufyan Ats-Tsauri  mengatakan: “Hendaknya ahli syuramu adalah orang-orang yang bertakwa dan amanah  serta orang-orang yang takut kepada Allah.” (Tafsir Al-Qurthubi,  4/250-251)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Asy-Syihristani  mengatakan: “… Akan tetapi wajib bersama penguasa itu (ada) seorang yang pantas  berijtihad sehingga dia (penguasa itu- red) dapat bertanya kepadanya dalam  permasalahan hukum.” (Al-Milal, 1/160, lihat Madarikun Nazhar, hal.  177)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ibnu Khuwairiz  Mandad mengatakan: “Wajib bagi para pemimpin untuk bermusyawarah dengan para  ulama dalam hal-hal yang tidak mereka ketahui dan pada perkara agama yang  membuat mereka bingung. Juga bermusyawarah dengan para pemimpin perang pada  urusan peperangan, dengan tokoh masyarakat pada urusan yang berkaitan dengan  maslahat masyarakat, dan dengan para menteri dan wakil-wakilnya pada perkara  kemaslahatan negeri dan kemakmurannya.” (Tafsir Al-Qurthubi,  4/250)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Al-Qurthubi  mengatakan: “Para ulama berkata: ‘Kriteria orang yang diajak musyawarah jika  dalam perkara hukum hendaknya seorang ulama dan agamis. Dan jarang yang seperti  itu kecuali orang- orang yang berakal. Oleh karenanya Al-Hasan mengatakan:  ‘Tidaklah akan sempurna agama seseorang kecuali setelah orang yang bertakwa dan  amanah serta orang yang takut kepada Allah.” (Tafsir Al-Qurthubi,  4/250-251)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Al-Mawardi  mengatakan ketika menjelaskan orang-orang yang berhak bermusyawarah untuk  memilih imam/pemimpin: “…Syarat-syarat yang harus ada pada mereka ada tiga:  pertama; keadilan (yakni keshalihan agamanya) dengan berbagai syaratnya. Kedua;  ilmu yang dengannya dia dapat mengetahui siapa yang berhak menjadi pemimpin  dengan syarat-syarat kepemimpinan. Ketiga; ide yang bagus dan bijak yang dengan  itu dia bisa memilih yang paling pantas untuk menjadi pimpinan.” (Al-Ahkamus  Sulthaniyyah, hal.4)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dari penjelasan  para ulama, kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa ahli syura adalah para  ulama yang benar-benar berilmu tentang Al Qur’an dan Sunnah Nabi  serta  pendapat-pendapat para ulama dalam berbagai masalah, bertakwa, dan takut kepada  Allah, juga memiliki sifat amanah, bijaksana dalam memutuskan suatu urusan,  demikian pula memiliki keinginan baik untuk umat secara menyeluruh dan dari  kalangan laki-laki bukan wanita.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Jika dibutuhkan  musyawarah pada urusan-urasan duniawi maka juga bisa melibatkan para ahli yang  berpengalaman dalam bidang-bidang tertentu namun tentu tidak lepas dari  sifat-sifat dasar diatas. Demikian pula tidak bisa dilepaskan dari para ulama  karena merekalah yang dapat mempertimbangkan sisi mashlahat dan mafsadah yang  hakiki dan secara syar’i serta sisi halal dan haramnya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Apakah Ahli  Bid’ah Boleh Menjadi Ahli Syura?</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dengan mengetahui  sifat-sifat ahli syura, tampak bahwa ahli bid’ah tidak bisa dijadikan sebagai  ahli syura karena ahli bid’ah tidak dapat dipercaya agamanya, amanahnya,  keinginan baiknya dan juga sifat yang lain tidak terpenuhi padanya. Demikian  pula terjadi dalam sejarah beberapa peristiwa yang membuktikannya. Pada masa  khilafah ‘Abbasiyyah, tepatnya pada pemerintahan Al-Makmun, yang menjadikan  Bisyr Al-Marrisi (seorang tokoh Mu’tazilah) sebagai salah satu penasehatnya,  mengakibatkan tersebarnya aqidah Mu’tazilah tentang Al Qur’an yaitu bahwa Al  Qur’an bukan Kalamullah sehingga sebagian ulama terbunuh karena itu (tidak mau  mengatakan Al Qur’an bukan Kalamullah -red) dan sebagian lagi dipenjara dan  disiksa. Demikian pula pada masa Al-Mu’tashim Billah yang menjadikan Al-Wazir  Ibnul ‘Alqomi (seorang Syi’ah yang menipu Khalifah) sebagai salah satu  penasehatnya, sehingga dia membantu pasukan Tatar memasuki kota Baghdad dan  menguasainya. Itu sebagian contoh, dan semua ahlul bid’ah pada dasarnya sama,  baik yang berpemikiran mengkafirkan yang tidak sepaham dengan mereka, atau  berpemikiran Sufi, atau yang lain.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Wallahu  a’lam.</span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafyonly.wordpress.com/70/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafyonly.wordpress.com/70/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafyonly.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafyonly.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafyonly.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafyonly.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafyonly.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafyonly.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafyonly.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafyonly.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafyonly.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafyonly.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafyonly.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafyonly.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafyonly.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafyonly.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=70&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/siapakah-ahli-syura-bagian-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0f837da578f7d306ee4326fc0fed6e9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafyonly</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SIAPAKAH AHLI SYURA (Bagian I)</title>
		<link>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/siapakah-ahli-syura-bagian-i/</link>
		<comments>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/siapakah-ahli-syura-bagian-i/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jul 2007 21:10:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafyonly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[asysyariah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[DarusSalaf]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[thullabul-ilmiy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/siapakah-ahli-syura-bagian-i/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam demokrasi, orang mengenal istilah one man one vote. Dengan satu orang satu suara, maka tak ada lagi istilah muslim atau kafir, ulama atau juhala (orang bodoh), ahli maksiat atau orang shalih, dan seterusnya. Semua suara bernilai sama di hadapan ‘hukum’. Walhasil, keputusan terbaik adalah keputusan yang diperoleh dengan suara mayoritas. Lalu bagaimana dengan sistem [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=69&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalam demokrasi,  orang mengenal istilah one man one vote. Dengan satu orang satu suara, maka tak  ada lagi istilah muslim atau kafir, ulama atau juhala (orang bodoh), ahli  maksiat atau orang shalih, dan seterusnya. Semua suara bernilai sama di hadapan  ‘hukum’. Walhasil, keputusan terbaik adalah keputusan yang diperoleh dengan  suara mayoritas. </span></font><span id="more-69"></span><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Lalu bagaimana dengan sistem islam? Siapakah yang patut  didengar suaranya?</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalam  ketatanegaraan Islam, dIkenal istilah “ahli syur”’. Posisinya yang sangat  penting membuat keberadaannya tidak mungkin dipisahkan dengan struktur  ketatanegaraan. Karena bagaimanapun bagusnya seseorang pemimpin, ia tetap tidak  akan pernah lepas dari kelemahan, kelalaian, atau ketidaktahuan dalam beberapa  hal. Sampai-sampai Nabi Muhammad  pun diperintahkan untuk melakukan syura,  apalagi selain beliau tentunya. Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di mengatakan:  “Jika Allah mengatakan kepada Rasul-Nya –padahal beliau adalah orang yang paling  sempurna akalnya, paling banyak ilmunya dan paling bagus idenya– ‘maka  bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu’, maka bagaimana dengan selain  beliau??” (Taisir Al-Karimirrahman, hal. 154)</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kata asy-syura  (الشُوْرَى) adalah ungkapan lain dari kata musyawarah (مَشَاوَرَةٌ) atau  masyurah (مَشُوْرَةٌ) yang dalam bahasa kita dikenal dengan musyawarah, sehingga  ahli syura adalah orang yang dipercaya untuk diajak  bermusyawarah.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Disyariatkannya  Syura</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah  berfirman:</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">وَ شَاوِرْهُمْ  في الأَمْرِ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Maka  bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali Imran:  159)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Juga Allah memuji  kaum mukminin dengan firman-Nya:</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">وَأَمْرُهُمْ  شُوْرَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Dan urusan  mereka (diputuskan) dengan musyawarah dan mereka menafkahkan sebagian yang kami  rizkikan kepada mereka.” (Asy-Syura: 38)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kedua ayat mulia  diatas menunjukkan tentang disyariatkannya bermusyawarah. Ditambah lagi dengan  praktek Nabi  yang sering melakukannya dengan para sahabatnya seperti dalam  masalah tawanan perang Badr, kepergian menuju Uhud untuk menghadapi kaum  musyrikin, menangggapi tuduhan orang-orang munafiq yang menuduh ‘Aisyah berzina,  dan lain-lain. Demikian pula para shahabat beliau berjalan di atas jalan ini.  (lihat Shahih Al-Bukhari, 13/339 dengan Fathul Bari)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ibnu Hajar  berkata: “Para ulama berselisih dalam hukum wajibnya.” (Fathul Bari,  13/341)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Pentingnya  Syura</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Syura teramat  penting keberadaannya sehingga para ulama, diantarnya Al-Qurthubi, mengatakan:  “Syura adalah keberkahan.” (Tafsir Al-Qurthubi, 4/251)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Al-Hasan  Al-Bashri mengatakan: “Tidaklah sebuah kaum bermusyawarah di antara mereka  kecuali Allah akan tunjuki mereka kepada yang paling utama dari yang mereka  ketahui saat itu.” (Ibnu Hajar mengatakan: “Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam  Al-Adabul Mufrad dan Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang kuat.” Lihat Fathul Bari,  13/340)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Asy-Syaikh  Abdurrahman As-Sa’di dalam Tafsir-nya menyebutkan faidah-faidah musyawarah  diantaranya:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">1. Musyawarah  termasuk ibadah yang mendekatkan kepada Allah.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">2. Dengan  musyawarah akan melegakan mereka (yang diajak bermusyawarah) dan menghilangkan  ganjalan hati yang muncul karena sebuah peristiwa. Berbeda halnya dengan yang  tidak melakukan musyawarah. Dikhawatirkan, orang tidak akan sungguh-sungguh  mencintai dan tidak menaatinya. Seandainya menaati pun, tidak dengan penuh  ketaatan.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">3. Dengan  bermusyawarah, akan menyinari pemikiran karena menggunakan pada  tempatnya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">4. Musyawarah  akan menghasilkan pendapat yang benar, karena hampir-hampir seorang yang  bermusyawarah tidak akan salah dalam perbuatannya. Kalaupun salah atau belum  sempurna sesuatu yang ia cari, maka ia tidak tercela. (Taisir Karimirrahman,  hal. 154)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Apa Yang Perlu  Dimusyawarahkan?</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Para ulama  berbeda pendapat dalam mempermasalahkan hal-hal yang sesungguhnya Nabi   diperintah Allah untuk bermusyawarah dengan para shahabatnya, sebagaimana  tersebut dalam surat Ali Imran: 159. Dalam hal ini, Ibnu Jarir menyebutkan  beberapa pendapat:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">1. Pada masalah  strategi peperangan dan dalam menghadapi musuh untuk melegakan para shahabat dan  untuk mengikat hati mereka kepada agama ini serta agar mereka melihat bahwa Nabi  juga mendengar ucapan mereka.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">2. Nabi  justru  diperintahkan untuk bermusyawarah dalam perkara itu walaupun berliau punya  pendapat yang paling benar karena adanya keutamaan (fadhilah) dalam  musyawarah.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">3. Allah  perintahkan beliau untuk bermusyawarah padahal beliau sesungguhnya sudah cukup  dengan bimbingan dari Allah. Hal ini dalam rangka memberi contoh kepada umatnya  sehingga mereka mengikuti beliau ketika dilanda suatu masalah, dan ketika mereka  bersepakat dalam sebuah perkara, maka Allah akan berikan taufiq-Nya kepada  mereka kepada yang paling benar. (Tafsir Ath-Thabari, 4/152-153 dengan  diringkas)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">4. Sebagian ulama  berpendapat bahwa maksudnya adalah musyawarah pada perkara yang Nabi  belum  diberi ketentuaannya tentang perkara itu secara khusus.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">5. Maksudnya  yaitu pada urusan keduniaan secara khusus.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">6. Pada perkara  agama dan kejadian-kejadian yang belum ada ketentuannya dari Allah yang harus  diikuti. Juga pada urusan yang keduniaan yang dapat dicapai melalui ide dan  perkiraan yang kuat. (Ahkamul Qur’an karya Al-Jashshash,  2/40-42)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Pendapat terakhir  inilah yang dianggap paling kuat oleh Al-Jashshash dengan alasan-alasan yang  disebut dalam buku beliau. Lalu beliau juga berkata: “Dan pasti Nabi  bermusyawarah pada hal-hal yang belum ada nash atau ketentuannya dari Allah.  Dimana tidak boleh bagi beliau melakukan musyawarah pada hal-hal yang telah ada  ketentuannya dari Allah. Dan ketika Allah tidak mengkhususkan urusan agama dari  urusan dunia ketika memerintahkan Nabi-Nya untuk musyawarah, maka pastilah  perintah untuk musyawarah itu pada semua urusan”. Dan nampaknya pendapat ini  pula yang dikuatkan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari (13/340) setelah  menyebutkan pendapat-pendapat diatas. Juga oleh Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di  dalam Tafsir-nya (hal. 154) seperti yang terpahami dari ucapan beliau. Jadi  tidak semua perkara dimusyawarahkan sampai-sampai sesuatu yang telah ditentukan  syariat pun dimusyawarahkan, tetapi bagian tertentu saja seperti yang dijelaskan  diatas. Yang mendukung hal ini adalah bacaan ‘Abdullah bin  ‘Abbas:</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">وَشَاوِرْهُمْ في  بَعْضِ اْلأَمْرِ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Maka  bermusyawarahlah dengan mereka dalam sebagian urusan itu.” (Tafsir Al-Qurthubi,  4/250)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Semua hal diatas  kaitannya dengan musyawarah yang dilakukan oleh Nabi. Maka yang boleh  dimusyawarahkan oleh umatnya perkaranya semakin jelas, yaitu pada hal-hal yang  belum ada nash atau ketentuannya baik dari Allah atau Rasul-Nya. Artinya, jika  telah ada ketentuannya dari syariat, maka tidak boleh melampauinya. Dan mereka  harus mengikuti ketentuan syariat tersebut. Allah   berfirman:</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">يَا أَيُهَا  الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاتَّقُوا  اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Wahai  orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya dan  bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha  Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Al-Imam  Al-Bukhari mengatakan: “Maka Abu Bakar tidak memilih musyawarah jika beliau  memiliki hukum dari Rasulullah…” [Shahih Al-Bukhari, 13/339-340 dengan Fathul  Bari]</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dan sebaliknya.  Jika sudah ada ketentuannya dalam syariat namun mereka tidak mengetahuinya, atau  lupa, atau lalai, maka boleh bermusyawarah untuk mengetahui ketentuan syariat  dalam perkara tersebut, bukan untuk menentukan sesuatu yang berbeda dengan  ketentuan syariat. Al- Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Seorang hakim/pemimpin  diperintahkan untuk bermusyawarah karena seorang penasehat akan mengingatkan  dalil-dalil yang dia lalaikan dan menunjuki dalil- dalil yang tidak dia ingat,  bukan untuk bertaqlid kepada penasehat tersebut pada apa yang dia katakan.  Karena sesungguhnya Allah tidak menjadikan kedudukan yang demikian (diikuti  dalam segala hal) itu bagi siapapun setelah Nabi”. (Fathul Bari,  13/342).”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Al-Bukhari  mengatakan: “Dan para imam setelah Nabi wafat bermusyawarah pada hal-hal yang  mubah dengan para ulama yang amanah untuk mengambil yang paling mudah. Dan jika  jelas bagi mereka Al Qur’an maupun As Sunnah, maka mereka tidak melampauinya  untuk (kemudian) mengambil selainnya. Hal itu dalam rangka meneladani Nabi…”  (Shahih Al-Bukhari, 13/339-340 dengan Fathul Bari. Lihat pula hal. 342 baris  18)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ibnu Taimiyyah  mengatakan: “Dan jika seorang pemimpin bermusyawarah dengan mereka (ahli syura)  kemudian sebagian mereka menjelaskan kepadanya sesuatu yang wajib dia ikuti baik  dari Kitabullah atau Sunnah Rasul-Nya atau ijma’ kaum muslimin maka dia wajib  mengikutinya dan tiada ketaatan kepada siapapun pada hal-hal yang  menyelisihinya. Adapun jika pada hal-hal yang diperselisihkan kaum muslimin,  maka mestinya meminta pendapat dari masing-masing mereka beserta alasannya, lalu  pendapat paling mirip dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya itulah yang ia  amalkan.” (Siyasah Syar’iyyah karya Ibnu Taimiyyah hal. 133-134 dinukil dari  Fiqh Siyasah Syar’iyyah hal. 58))</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Al-Qurthubi  mengatakan: “Syura terjadi karena perbedaan pendapat. Maka seseorang yang  bermusyawarah hendaknya melihat perbedaan tersebut kemudian melihat kepada  pendapat yang paling dekat kepada Al Qur’an dan As Sunnah jika ia mampu. Lalu  jika Allah membimbingnya kepada yang Allah kehendaki, maka hendaknya ia  ber-‘azam (bertekad) untuk kemudian melakukannya dengan bertawakkal kepada  Allah. Dimana inilah ujung dari ijtihad yang diminta dan dengan inilah Allah  perintahkan Nabi-Nya dalam ayat ini (Ali Imran: 159).” (Tafsir Al-Qurthubi,  4/252)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Siapakah Ahli  Syura?</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ini merupakan  pembahasan yang sangat penting mengingat ahli syura sangat besar andilnya dalam  menentukan sebuah keputusan, baik ataupun buruk. Sehingga jika tidak dipahami  secara benar, akan berakibat sangat fatal. Ketika seseorang salah dalam  menentukan ahli syura yaitu dengan memilih orang yang tidak memiliki kriteria  yang ditentukan syariat, maka ini menjadi alamat kehancuran. Saking pentingnya  hal ini, Al-Imam Al-Bukhari bahkan menulis bab khusus dalam kitab Shahih-nya  yang berjudul: Orang Kepercayaan Pemimpin dan Ahli Syuranya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Lalu beliau  menyebutkan sebuah hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Nabi   bersabda:</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">مَا بَعَثَ اللهُ  مِنْ نَبِيٍّ وَلاَ اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيْفَةٍ إِلاَّ كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ:  بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوْرِ وَتَحَضُّهُ عَلَيْهِ وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ  بِالشَّرِّ وَتَحضُّهُ عَلَيْهِ فَالْمَعْصُوْمُ مَنْ عَصَمَ اللهُ  تَعَالى</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Tidaklah Allah  mengutus seorang Nabi dan tidaklah menjadikan seorang khalifah kecuali ia akan  punya dua orang kepercayaan. Salah satunya memerintahkan kepada yang baik dan  menganjurkannya, dan yang lain memerintahkan kepada yang jelek dan menganjurkan  kepadanya. Maka orang yang terlindungi adalah orang yang dilindungi oleh Allah.”  (Shahih, HR. Al-Bukhari, kitab Al-Ahkam Bab Bithanatul Imam, no:  7198)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dari hadits ini  dipahami, ada tiga macam pemimpin: ada yang cenderung untuk memerintahkan kepada  yang baik, ada yang cenderung kepada yang buruk, dan ada yang terkadang  cenderung kepada yang baik dan terkadang cenderung kepada yang buruk. (Fathul  Bari, 13/390-391)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Atas dasar ini,  akan dinukilkan keterangan para ulama yang menjelaskan siapa sebenarnya yang  berhak untuk duduk di majelis permusyawaratan. Dalam hal ini Nabi  bersabda:</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">المُسْتَشَارُ  مُؤْتَمَنٌ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Seorang yang  diminta musyawarahnya adalah orang yang dipercaya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu  Majah, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihul Jami’ no. 6700. Lihat pula  Ash-Shahihah no.1641)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Hadits ini  mengisyaratkan bahwa ahli syura haruslah orang yang amanah karena tidak mungkin  seorang yang tidak amanah akan dipercaya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalam firman  Allah kepada Nabi-Nya:</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">وَشَاوِرْهُمْ في  الأَمْرِ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Maka  bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ibnu ‘Abbas  mengatakan: “Maksudnya dengan Abu Bakr dan ‘Umar.” (Sanadnya shahih diriwayatkan  oleh An-Nahhas dalam An-Nasikh wal Mansukh, dan Al-Hakim dan dishahihkan oleh  beliau dan oleh Adz-Dzahabi. Lihat Madarikun Nazhar, hal.  289).</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Demikianlah  beliau bermusya-warah dengan Abu Bakr dan Umar dalam masalah tawanan perang Badr  dan dalam masalah lainnya. Juga dengan Ali bin Abi Thalib dalam masalah  Ifk-yaitu tuduhan zina kepada ‘Aisyah (Shahih Al-Bukhari no. 7369) dan juga  shahabat yang lain. Yang jelas, Nabi tidak mengajak musyawarah kepada seluruh  para shahabatnya dalam setiap hal. Akan tetapi memilih mereka yang pantas dalam  perkara tersebut.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ahli syura Abu  Bakr, Maimun bin Mihran mengatakan: ”Bahwa Abu Bakr jika mendapati sebuah  masalah maka beliau melihat kepada Kitabullah. Jika beliau beliau mendapatkan  sesuatu yang memutuskan perkara itu, maka beliau putuskan dengannya. Dan jika  beliau mengetahuinya dari Sunnah Nabi, maka beliaupun memutuskan dengannya. Bila  tidak beliau ketahui, beliau keluar kepada kaum muslimin dan bertanya kepada  mereka tentang Sunnah Nabi (pada perkara yang tersebut). Dan bila hal itu tidak  mampu (menyelesaikan), maka beliau panggil tokoh-tokoh kaum muslimin dan para  ulama mereka lalu beliau bermusyawarah dengan mereka.” (Ibnu Hajar mengatakan:  “Diriwayatkan dari Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih.” Lihat Fathul Bari,  13/342)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ahli syura ‘Umar  bin Al-Khaththab, Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Para qurra adalah orang-orang  majelisnya ‘Umar dan ahli syuranya, baik yang tua maupun yang muda.” (Shahih,  HR. Al-Bukhari no. 7286, lihat Fathul Bari, 13/250). Ibnu Hajar mengatakan:  “Al-Qurra maksudnya para ulama yang ahli ibadah.” (Lihat Fathul Bari,  13/258)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Di antara mereka  adalah ‘Abdullah bin ‘Abbas sendiri, sebagaimana beliau kisahkan: “‘Umar  memasukkan aku bersama orang-orang tua yang pernah ikut perang Badr, maka  seolah-olah sebagian mereka marah dan mengatakan: ‘Mengapa ‘Umar memasukkan  pemuda ini bersama kita padahal kita pun punya anak-anak semacam dia’. Maka  ‘Umar mengatakan: ‘Hal itu berdasarkan apa yang kalian ketahui (yakni bahwa dia  dari keluarga Nabi dan dari sumber ilmu)’.” (HR. Al-Bukhari, 6/28, lihat  Bahjatun Nazhirin, 1/195)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Riwayat ini  menunjukkan bahwa pada majelis syuranya ‘Umar adalah para shahabat ahli Badr  karena mereka lebih utama daripada yang lain. Kemudian ‘Umar mengikutkan Ibnu  ‘Abbas bersama mereka karena ilmu beliau bahkan melebihi sebagian shahabat ahli  Badr karena beliau didoakan oleh Nabi: “Ya Allah, pahamkan dia tentang agama dan  ajari dia takwil.” (Madarikun Nazhar, hal. 162)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalam kejadian  lain, Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Ketika itu, saya berada di tempat singgahnya  Abdurrahman bin ‘Auf di Mina dan beliau disisi ‘Umar, dalam sebuah haji yang  merupakan akhir hajinya. Abdurrahman mengarahkan pertanyaan kepada saya: ‘(Apa  pendapatmu) jika kamu melihat seseorang datang kepada amirul mukminin (‘Umar bin  Al-Khaththab) hari ini lalu ia mengatakan: ‘Wahai amirul mukminin, apakah anda  melakukan sesuatu pada fulan yang mengatakan: ‘Seandainya ‘Umar telah meninggal  maka aku akan membai’at fulan. Demi Allah, tidaklah bai’atnya Abu Bakr dahulu  kecuali hanya sesaat lalu langsung sempurna.’ Maka (mendengar laporan itu) ‘Umar  marah lalu mengatakan: ‘Sungguh saya insya Allah akan berdiri sore ini di  hadapan manusia dan akan memperingatkan mereka dari orang-orang itu yang ingin  merampas urusan mereka’. Maka Abdurrahman mengatakan: ‘Wahai amirul mukminin  jangan kau lakukan! Karena musim haji ini menampung orang-orang hina (juga),  sesungguhnya merekalah yang akan lebih banyak dekat denganmu disaat kamu berdiri  di hadapan mereka. Dan saya khawatir jika engkau bangkit dan mengucapkan sebuah  ucapan lalu dibawa terbang oleh setiap yang terbang, mereka tidak memahaminya  dan tidak mendudukkan pada tempatnya. Maka tundalah hingga engkau pulang ke  Madinah karena Madinah adalah rumah hijrah dan (rumah) As Sunnah sehingga engkau  dapat mengkhususkan ahli fiqh dan tokoh-tokoh masyarakat, lalu kamu katakan apa  yang mungkin kamu katakan sehingga ahlul ilmi akan memahami ucapanmu dan  menempatkannya pada tempatnya’.” (Riwayat Al-Bukhari. Lihat Madarikun Nazhar,  hal. 163)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Setelah  terjadinya usaha pembunuhan terhadap ‘Umar dan ‘Umar pun sudah merasa dekat  ajalnya, dia menyerahkan urusan kepemimpinan ini kepada enam orang shahabat. Dan  dikatakan kepada beliau: “Berwasiatlah wahai amirul mukminin, berwasiatlah!  Tunjuklah khalifah.” Jawabnya: “Saya tidak mendapati orang yang lebih berhak  terhadap perkara ini (kekhilafahan) lebih dari orang-orang itu, yang Rasulullah  meninggal dalam keadaan ridha terhadap mereka.” Lalu beliau menyebut ‘Ali,  ‘Utsman, Az-Zubair, Thalhah, Sa’ad dan Abdurrahman (Shahih, riwayat Al-Bukhari  no. 3700, dengan Fathul Bari, 7/59). ‘Umar menyerahkan urusan ini hanya kepada 6  orang shahabat yang memiliki sifat tersebut, padahal saat itu para shahabat  berjumlah lebih dari 10 ribu orang. (Madarikun Nazhar, hal.  165)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Al-Bukhari  mengatakan: “Dan para imam setelah Nabi wafat bermusyawarah pada hal-hal yang  mubah dengan para ulama yang amanah untuk mengambil yang paling mudah. Dan jika  jelas bagi mereka Al-Qur’an maupun As Sunnah, maka mereka tidak melampauinya  untuk (kemudian) mengambil selainnya. Hal itu dalam rangka meneladani Nabi…”  (Shahih Al-Bukhari, 13/339-340 dengan Fathul Bari. Lihat pula hal. 342 baris  18)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Al-Imam  Asy-Syafi’i mengatakan: “Janganlah dia bermusyawarah jika terjadi suatu masalah  kecuali dengan orang yang amanah, berilmu dengan Al Qur’an dan As Sunnah dan  riwayat- riwayat dari shahabat dan setelahnya, serta berilmu tentang  pendapat-pendapat para ulama, qiyas, dan bahasa Arab.” (Mukhtashar Al-Muzani,  dari Madarikun Nazhar, hal. 176)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ibnu At-Tin  menukilkan dari Asyhab, seorang murid dari Al-Imam Malik, bahwa Al-Imam Malik  mengatakan: “Semestinya seorang pemimpin menjadikan seseorang yang menerangkan  kepadanya tentang keadaan masyarakatnya disaat dia sendirian. Dan hendaknya  orang tersebut orang yang bisa dipercaya, amanah, cerdas dan bijaksana.” (Fathul  Bari, 13/190)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sufyan Ats-Tsauri  mengatakan: “Hendaknya ahli syuramu adalah orang-orang yang bertakwa dan amanah  serta orang-orang yang takut kepada Allah.” (Tafsir Al-Qurthubi,  4/250-251)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Asy-Syihristani  mengatakan: “… Akan tetapi wajib bersama penguasa itu (ada) seorang yang pantas  berijtihad sehingga dia (penguasa itu- red) dapat bertanya kepadanya dalam  permasalahan hukum.” (Al-Milal, 1/160, lihat Madarikun Nazhar, hal.  177)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ibnu Khuwairiz  Mandad mengatakan: “Wajib bagi para pemimpin untuk bermusyawarah dengan para  ulama dalam hal-hal yang tidak mereka ketahui dan pada perkara agama yang  membuat mereka bingung. Juga bermusyawarah dengan para pemimpin perang pada  urusan peperangan, dengan tokoh masyarakat pada urusan yang berkaitan dengan  maslahat masyarakat, dan dengan para menteri dan wakil-wakilnya pada perkara  kemaslahatan negeri dan kemakmurannya.” (Tafsir Al-Qurthubi,  4/250)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Al-Qurthubi  mengatakan: “Para ulama berkata: ‘Kriteria orang yang diajak musyawarah jika  dalam perkara hukum hendaknya seorang ulama dan agamis. Dan jarang yang seperti  itu kecuali orang- orang yang berakal. Oleh karenanya Al-Hasan mengatakan:  ‘Tidaklah akan sempurna agama seseorang kecuali setelah orang yang bertakwa dan  amanah serta orang yang takut kepada Allah.” (Tafsir Al-Qurthubi,  4/250-251)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Al-Mawardi  mengatakan ketika menjelaskan orang-orang yang berhak bermusyawarah untuk  memilih imam/pemimpin: “… Syarat-syarat yang harus ada pada mereka ada tiga:  pertama, keadilan (yakni keshalihan agamanya) dengan berbagai syaratnya. Kedua,  ilmu yang dengannya dia dapat mengetahui siapa yang berhak menjadi pemimpin  dengan syarat-syarat kepemimpinan. Ketiga, ide yang bagus dan bijak yang dengan  itu dia bisa memilih yang paling pantas untuk menjadi pimpinan.” (Al-Ahkamus  Sulthaniyyah, hal.4)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dari penjelasan  para ulama, kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa ahli syura adalah para  ulama yang benar-benar berilmu tentang Al Qur’an dan Sunnah Nabi serta  pendapat-pendapat para ulama dalam berbagai masalah, bertakwa, dan takut kepada  Allah, juga memiliki sifat amanah, bijaksana dalam memutuskan suatu urusan,  demikian pula memiliki keinginan baik untuk umat secara menyeluruh dan dari  kalangan laki-laki bukan wanita.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Jika dibutuhkan  bermusyawarah pada urusan-urasan duniawi maka juga bisa melibatkan para ahli  yang berpengalaman dalam bidang-bidang tertentu namun tentu tidak lepas dari  sifat-sifat dasar diatas. Demikian pula tidak bisa dilepaskan dari para ulama  karena merekalah yang dapat mempertimbangkan sisi maslahat dan mafsadah yang  hakiki dan secara syar’i serta sisi halal dan haramnya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Apakah Ahli  Bid’ah Boleh Menjadi Ahli Syura?</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dengan mengetahui  sifat-sifat ahli syura, tampak bahwa ahli bid’ah tidak bisa dijadikan sebagai  ahli syura karena ahli bid’ah tidak dapat dipercaya agamanya, amanahnya,  keinginan baiknya dan juga sifat yang lain tidak terpenuhi padanya. Demikian  pula terjadi dalam sejarah beberapa peristiwa yang membuktikannya. Pada masa  khilafah ‘Abbasiyyah, tepatnya pada pemerintahan Al-Makmun, yang menjadikan  Bisyr Al-Marrisi (seorang tokoh Mu’tazilah) sebagai salah satu penasehatnya,  mengakibatkan tersebarnya aqidah Mu’tazilah tentang Al Qur’an yaitu bahwa Al  Qur’an bukan Kalamullah sehingga sebagian ulama terbunuh karena itu (tidak mau  mengatakan Al Qur’an bukan Kalamullah -red) dan sebagian lagi dipenjara dan  disiksa. Demikian pula pada masa Al-Mu’tashim Billah yang menjadikan Al-Wazir  Ibnul ‘Alqomi (seorang Syi’ah yang menipu Khalifah) sebagai salah satu  penasehatnya, sehingga dia membantu pasukan Tatar memasuki kota Baghdad dan  menguasainya. Itu sebagian contoh, dan semua ahlul bid’ah pada dasarnya sama,  baik yang berpemikiran mengkafirkan yang tidak sepaham dengan mereka, atau  berpemikiran Sufi, atau yang lain.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Wallahu  a’lam.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Al-Ustadz Qomar  Suaidi, Lc.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sabar terhadap  kedzalima pengsa adalah suatu prinsip dari prinsin-prinsip Ahlus Sunnah wal  Jama’ah. (Majmu’ Fatawa 28/179, dinukil dari fiqih Siyasah Syar’iyah, hal.  163)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Itulah salah satu  ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terlupakan atau tidak diketahui oleh kaum  muslimin yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Hampir semua kelompok pergerakan  yang muncul diabad ini atau sebelumnya melainkan prinsip ini. Entah karena lupa,  tidak tahu, atau karena sengaja.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Barangkali akan  ada orang yang mengatakn, “Penguasa sekarang lain dengan penguasa dulu  !”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Untuk menjawab  pertanyaa itu, seorang ulama’ bernama Abdul Walid Ath Thartusi berkata: “Jika  kamu berkata bahwa raja-raja(penguasa) di masa ini tidak seperti raja-raja lalu,  bahwa rakyat sekarang pun tidak seperti rakyat di masa lalu. Dan kamu tidak  lebih berhak penguasamu ketika kamu menengok (membandingkan denagan) pengusa  dulu daripada penguasamu mencela kamu ketika dia menengok rakyat yang hidup di  masa lalu. Maka jika penguasamu berbuat dzolim kepada kamu hendak kamu bersabar  dan dosa ditanggung (penguasa itu). Masih saja saya dengar ucapan orang,  ‘amal-amal kalian adalah pengusasa kalian, “Sebagaiman kalian, maka seoperti  itulah penguasa kalian,” Sampai pada akhirnya mendapatkan makna semacam itu  dalam Al Qu’an ketika Allah  berfirman:</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">وَ كَذَلِكَ  نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِيْنَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا  يَكْسِبُوْنَ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Dan demikialah  Kami jadikan sebagian orang-orang yang dzalim itu menjadi teman bagi sebagiab  yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan”. (Al An’am:  129)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dahulu juga  dikatakan: ‘ kamu ingkari pada masamu adalah kaerena dirusak oleh  amalmu.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Abdul Malik bin  Marwan juga mengatakan : “Berbuat adil kalian wahai rakyat ! Kalaian  menginginkan kami untuk berjalan denga peri hidup Abu Bakar dan Umar, pada  kalian tidak berbuat terhadap kami dan diri kalian”. (Sirojul Muluk hal.  100-101, dinukil dari fiqih Siyasah Syar’iyah, hal. 165-166)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Inilah hakekat  yang perlu diketahui dan selalu diingat, bahwa muncul penguasa jahat adalah  karena amal kita yang jahat juga, seperti [-erbuatan maksiat, bid’ah, khurafat,  dan perbuatan syirik kepada Allah. Camkan wahai wahai para tokoh pergerakan  !.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sikap kalian  dengan peberontak, mencaci maki, merendahkan, atau bahkan mengkafirkan  mengkafirkan para penguasa justru menambah penguasa semakin bengis, bukan hany  kepada kalian namun hanya kepada orang-orang yang tidak berdosa. Inilah akibat  amalan bid’ah yang berbententangn dengan prisip Ahlus  Sunnah.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Jangan kalian  sangka bahwa perbuatan itu dengan sedang berjihad dan menegakkan Islam. Namun  sebaliknya, kalian sungguh sedang menggerogoti sunnah Nabi  untuk meruntuhkan  salah penyangga ajaran Islam.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sikap yang benr  untuk menyudahi kedazilman penguasa adalah dengan memperbaiki amal kita baik  dari sisi aqidah, metode dakwah, ibadah maupun akhlak dan mengikuti ajaraan  Rasul  .</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Al Hasan Al  Bashri mengatakan: “Ketahuilah semoga Allah memberimu ‘afiyah –bahwa kedzaliman  para raja merupakn adzab dari Allah dan Allah tidak dihadapi dengan pedamg akan  tetapi dihindari do’a, taubat, kembali kepada Allah dan mencabut segala do’a.  Sungguh adzab Allah jika dihadapi maka ia lebih bisa memotong.”(Asy Syari’ah  karya Al Imam Al Ajurri hal. 38, dinukil dari fiqih Siasah Syar’iyyah,  hal.166-167)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Perlu diketahui  munculnya penguasa-penguasa yang jahat bukan satu hal yang baru dalam sejarah  Islam tercatat sejak masa para sahabat masih hidup telah muncul seorang pimpinan  yang bengisnya melebihi para penguasa di masa ini sampai mendapatkan julukan  resmi dari Rasulullah  Al Mubir (pembinasa). Penguasa tersebut adalah Hajjaj  bin Yusuf Ats Tsaqofi.</span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafyonly.wordpress.com/69/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafyonly.wordpress.com/69/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafyonly.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafyonly.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafyonly.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafyonly.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafyonly.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafyonly.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafyonly.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafyonly.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafyonly.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafyonly.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafyonly.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafyonly.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafyonly.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafyonly.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=69&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/siapakah-ahli-syura-bagian-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0f837da578f7d306ee4326fc0fed6e9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafyonly</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Orang &#8211; orang Yang Menggenggam Bara Api (Bagian 3)</title>
		<link>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/orang-orang-yang-menggenggam-bara-api-bagian-3/</link>
		<comments>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/orang-orang-yang-menggenggam-bara-api-bagian-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jul 2007 21:10:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafyonly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[asysyariah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[DarusSalaf]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[thullabul-ilmiy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/orang-orang-yang-menggenggam-bara-api-bagian-3/</guid>
		<description><![CDATA[Thoifah Manshuroh mereka adalah orang-orang yang mencintai Alloh dan dicintai oleh-Nya. Oleh sebab itulah mereka dalam keadaan tetap jiwanya dalam memberantas Ahlul Bida&#8217; dan Ahlul Ahwa&#8217;, menyumbat dengan adzab yang pedih kepada thaghut-thaghut yang mengganti nikmat Alloh dengan kekufuran dan menghalalkan masyarakatnya dengan neraka jahannam. Ketahuilah saudara-saudara seiman, sesungguhnya sifat tetap istiqomah dalam memelihara Islam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=68&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Thoifah Manshuroh  mereka adalah orang-orang yang mencintai Alloh dan dicintai oleh-Nya. Oleh sebab  itulah mereka dalam keadaan tetap jiwanya dalam memberantas Ahlul Bida&#8217; dan  Ahlul Ahwa&#8217;, menyumbat dengan adzab yang pedih kepada thaghut-thaghut yang  mengganti nikmat Alloh dengan kekufuran dan menghalalkan masyarakatnya dengan  neraka jahannam.</span></font></p>
<p align="left"><span id="more-68"></span></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ketahuilah  saudara-saudara seiman, sesungguhnya sifat tetap istiqomah dalam memelihara  Islam dan terus menerus diatas manhaj Al Haq adalah kenikmatan yang sangat  besar. Dia adalah wali Allah dan hamba pilihan-Nya yang senantiasa mendapatkan  kecintaan dari-Nya. Dengan sifat itulah hamba-hamba Allah akan teruji. Allah  ta’ala berfirman, berbicara kepada hambanya Muhammad ‘alaihisshalaatu wasallam  (yang artinya):</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Dan kalau Kami  tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada  mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu  (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda  sesudah mati, kemudian kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap  Kami.&#8221;(Q.S. Al Isra&#8217; :74-75)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah telah  memerintahkan kepada malaikat untuk menetapkan ahlul iman (orang-orang yang  beriman) dengan firman-Nya (yang artinya):</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;(Ingatlah),  ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat: &#8220;Sesungguhnya Aku bersama kalian,  maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang beriman&#8221;.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">(Q.S Al Anfaal  :12)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah telah  mensyariatkan prinsip-prinsip, barangsiapa yang berjalan di atasnya Dia akan  memberikan terus menerus sifat keteguhan/keistiqomahan dan nikmat terus menerus  untuk mencintai sifat keteguhan/keistiqomahan tersebut. dan nikmat terus menerus  untuk mencintai sifat keteguhan/keistiqomahan tersebut.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Prinsip-prinsip  tersebut adalah:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">1.Menolong agama  Allah.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah ta’ala  berfirman (yang artinya):</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Hai orang-orang  yang beriman, jika kalian menolong (agama) Alloh, niscaya Dia akan menolong  kalian dan meneguhkan kedudukan-kedudukan kalian.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">(Q.S. Muhammad :  7)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">2.Dengan  perkataan yang kokoh dan benar. Allah ta’ala berfirman (yang  artinya):</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Allah meneguhkan  (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di  dunia dan di akhirat, (Q.S. Ibrahim: 27)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">3.Infaq di jalan  Allah.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah yang Maha  Tinggi dan Terpuji berfirman (yang artinya):</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Dan perumpamaan  orang-orang yang menginfaqkan hartanya karena mencari keridloan Allah dan untuk  keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang  disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat,  Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah  Maha Melihat apa yang kalian perbuat.&#8221; (Q.S. Al Baqarah :  265)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">terletak di  dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan  buahnya dua kali lipat, Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis  (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian perbuat. (Q.S. Al Baqarah  : 265)”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">4.Berdoa.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah ta’ala  berfirman (yang artinya):</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Tatkala mereka  nampak oleh Jalut dan tentaranya, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: &#8220;Ya  Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas kami dan tolonglah kami terhadap  orang-orang kafir&#8221;. (Q.S. Al Baqarah : 250)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">(Dan firman Allah  ta’ala yang artinya ) : “Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama- sama  mereka sejumlah besar pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah  karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak  (pula) menyerah (kepada) musuh. Alloh menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada  do&#8217;a mereka selain ucapan: &#8220;Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan  tindakan-tindakan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami  terhadap kaum yang kafir&#8221;. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di  dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang  berbuat kebaikan.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">(Q.S.Ali Imran  :146-148)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">5.Menjalankan  perkara-perkara yang diperintahkan-Nya dan menjauhi perkara yang  dilarang.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Setiap hamba yang  benar perkataannya dan baik (hasan) amalnya maka dia adalah hamba yang paling  tetap keteguhan dan keistiqomahannya. Allah ta’ala berfirman (yang  artinya):</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Dan sesungguhnya  kalau Kami perintahkan kepada mereka: &#8220;Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari  dari kampungmu:, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil  dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan  kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih  menguatkan iman mereka, dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka  pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan  yang lurus. Dan barangsiapa yang menta&#8217;ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu  akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu:  Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang- orang yang  saleh. Dan mereka itulah teman sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia  dari Allah, dan Allah cukup mengetahui. Hai orang-orang yang beriman,  bersiap-siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok,  atau majulah bersama-sama!&#8221;</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">(Q.S. An Nisaa&#8217;:  66-71)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">6.Tadabbur Al  Quranul Kariim.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ketahuilah wahai  hamba muslim, sesungguhnya hukum ketetapan dan asal tentang sifat keteguhan dan  keistiqomahan bersumber dari kitabullah dan sunnah Rosul-Nya ‘alaihisshalaatu  wasallam.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah ta’ala  berfirman (yang artinya):</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Katakanlah:  &#8220;Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur&#8217;an itu dari Rabbmu dengan haq, untuk  meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta  kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)&#8221;.(Q.S.An Nahl  :102)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">7.Menjadikan  orang-orang yang sholeh sebagai qudwah.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah ta’ala  berfirman(yang artinya) :</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Orang-orang itu  tidak mampu menghalang-halangi Alloh untuk (mengadzab mereka) di bumi ini, dan  sekali-kali tidak ada bagi mereka penolong selain Alloh. Siksaan itu dilipat  gandakan kepada mereka. Mereka selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan  mereka selalu tidak dapat melihat(nya).&#8221; (Q.S. Huud : 20)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ini semua adalah  sifat yang telah diwahyukan dan ditanamkan oleh Rabbul&#8217;alamin diatas  kesempurnaan janji ma&#8217;iyyah dan pengawasan dari-Nya yang menunjukan bahwa  Thoifah Al Manshuroh, mereka tidak bisa diatur kedudukannya dan dicabut atau  dirubah akar pangkalnya oleh musuh-musuh Allah meskipun dalam keadaan  musuh-musuh Allah itu bersatu. Ath Thoifah Al Manshuroh mereka adalah  orang-orang yang dipermisalkan oleh Allah dalam ayat Al Quran (artinya  ):</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Tidaklah kamu  perhatikan bagaimana Alloh telah membuat permisalan kalimat yang baik seperti  pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu  memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Alloh membuat  permisalan-permisalan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.&#8221; (Q.S.  Ibrahim: 24-25)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Thoifah Manshuroh  mereka adalah orang-orang yang mencintai Alloh dan dicintai oleh-Nya. Oleh sebab  itulah mereka dalam keadaan tetap jiwanya dalam memberantas Ahlul Bida&#8217; dan  Ahlul Ahwa&#8217;, menyumbat dengan adzab yang pedih kepada thaghut-thaghut yang  mengganti nikmat Alloh dengan kekufuran dan menghalalkan masyarakatnya dengan  neraka jahannam. Karena sesungguhnya Thoifah Al Manshuroh mereka menyandarkan  dirinya diatas Manhaj (jalan/prinsip) Alloh yang kekal.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Mereka dalam  keadaan tetap dhahir dimuka bumi meskipun orang-orang musyrik membenci dan tidak  menghendakinya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah berfirman  (yang artinya):</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Mereka hendak  memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah  tetap menyempurnakan cahaya-Nya</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">meskipun  orang-orang kafir benci.&#8221; (Q.S. Ash Shaff: 8).</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Tamat</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">(Diterjemahkan  Oleh Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid Dari Kitab Al Qabidhuna ‘ala Al  Jamri)</span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafyonly.wordpress.com/68/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafyonly.wordpress.com/68/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafyonly.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafyonly.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafyonly.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafyonly.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafyonly.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafyonly.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafyonly.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafyonly.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafyonly.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafyonly.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafyonly.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafyonly.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafyonly.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafyonly.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=68&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/orang-orang-yang-menggenggam-bara-api-bagian-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0f837da578f7d306ee4326fc0fed6e9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafyonly</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ORANG-ORANG YANG MENGGENGGAM BARA API ( Bagian Kedua )</title>
		<link>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/orang-orang-yang-menggenggam-bara-api-bagian-kedua/</link>
		<comments>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/orang-orang-yang-menggenggam-bara-api-bagian-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jul 2007 21:10:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafyonly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[asysyariah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[DarusSalaf]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[thullabul-ilmiy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/orang-orang-yang-menggenggam-bara-api-bagian-kedua/</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaly hafidhahullahu: Sesungguhnya apa yang dikatakan oleh Ibnu Qoyyim al Jauziyah Rahimahullah telah banyak terjadi dan dilakukan oleh golongan orang-orang hizbi. Apabila datang seorang muslim yang bukan dari golongan mereka untuk memberikan nasehat karena Allah dan Rasul-Nya, mereka mengatakan: &#8220;Engkau adalah seorang yang pandir, melemahkan semangat, menghendaki runtuhnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=67&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Syaikh Abu Usamah  Salim bin ‘Ied Al Hilaly hafidhahullahu:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sesungguhnya apa  yang dikatakan oleh Ibnu Qoyyim al Jauziyah Rahimahullah telah banyak terjadi  dan dilakukan oleh golongan orang-orang hizbi. </span></font><span id="more-67"></span><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Apabila datang seorang muslim  yang bukan dari golongan mereka untuk memberikan nasehat karena Allah dan  Rasul-Nya, mereka mengatakan: &#8220;Engkau adalah seorang yang pandir, melemahkan  semangat, menghendaki runtuhnya barisan kaum muslimin, dan membuka celah bagi  musuh-musuh muslimin&#8221;. Apabila datang orang yang memberi nasehat dari sesamanya  (anggota golongannya) mereka mengatakan: &#8220;Engkau adalah orang yang terjatuh dari  jalan ini dan menghendaki kehancuran secara halus “.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Saya tidak  mengetahui kapan mereka memahami bahwa sesungguhnya lingkaran Islam itu paling  luas, persaudaraan di atas dasar keimanan itu yang paling penting, dan jalan  yang ditempuh oleh generasi salaf itu yang paling alim, paling hakim, dan paling  selamat. Sesungguhnya seluruh golongan hizbi dalam keadaan berbangga dengan  kelompok dan golongannya masing-masing. Sungguh mereka telah menyandarkan  qudwah-nya (suri tauladan) kepada selain Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,  menyeru ke jalan selain jalan beliau , memberikan al wala&#8217; wal bara&#8217; karena  sebab selain beliau shallallahu’alaihi wasallam . Mereka telah menulis perkataan  yang tidak bersumber dari alqur&#8217;an dan assunnah dan menyandarkan diri  kepadanya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Apabila dibuka  hijab yang menutupi mereka (golongan orang-orang hizbi) akan ditemukan bahwa  mereka adalah golongan yang mentaati kebakhilan, mengikuti hawa nafsu, dan  mengagungkan dunia atau kemewahan (mereka menyatakan dirinya di atas agama Islam  dengan dasar hawa nafsunya masing-masing. Dan Islam bertentangan dengan apa yang  mereka sandarkan padanya), mereka merasa takjub dengan akal pemikirannya  masing-masing.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Oleh sebab itulah  Islam yang hakiki sangat asing dan orang-orang yang mengamalkannya sangat asing  sekali keadaannya diantara manusia.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Bagaimana tidak  mungkin mereka sebagai orang-orang yang sangat asing keberadaannya diantara  manusia ?! Mereka adalah satu kelompok yang sangat sedikit pengikutnya diantara  72 golongan (sebagaimana yang telah dikhabarkan oleh Rasulullah  shallallahu’alaihi wasallam) yang masing-masing mempunyai pengikut, pemimpin,  bendera, dan wilayah yang mereka tidak berdiri dan berjalan kecuali menyimpang  dari jalan yang telah dibimbingkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam  ?!</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Apabila satu  kelompok tersebut mengamalkan salah satu hukum Islam yang hakiki, yang telah  dibimbingkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, maka hal tersebut  menjadi sesuatu yang paling bertentangan dengan hawa nafsu, kenikmatan, syubhat,  dan syahwat dari 72 golongan tersebut. Karena syubhat dan syahwat merupakan  cita-cita akhir dari kehendak dan maksud mereka (72  golongan).</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Satu kelompok  tersebut adalah sebagai orang-orang yang paling asing diantara orang-orang yang  menjadikan kebakhilan sebagai perkara yang dita&#8217;ati, hawa nafsu sebagai perkara  yang diikuti; dan dunia (kemewahan) sebagai perkara yang  diagungkan.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Pahala yang  sangat besar ini [sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah  shallallahu’alaihi wasallam di atas (lihat edisi 11) diberikan kepada mereka  karena keberadaannya yang sangat asing diantara manusia, dan berpegang teguhnya  kepada sunnah Rasulullah shallallahu’alihi wasallam diantara kegelapan hawa  nafsu dan pemikiran manusia.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Apabila seorang  mukmin yang telah diberikan rizki pemahaman dalam agamanya, kefakihan dalam  sunnah Rasul-Nya, pemahaman dalam kitab-Nya, hendak berjalan dan mengamalkan  bimbingan Allah dan Rasul-Nya, dalam keadaan dia melihat manusia dihiasi dengan  hawa jalan nafsu, bid&#8217;ah, kesesatan, dan penyimpangan dari shirothol mustaqim  yang telah ditempuh oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, maka orang  mukmin tersebut telah mempersiapkan dirinya menjadi tempat celaan, fitnah, caci  makian, dan hinaan dari orang-orang yang jahil dan ahlul bida&#8217;. Demikan juga  penggembosan dan peringatan kepada manusia untuk menjauhinya. Sebagaimana  keadaan salaf (pendahulu) mereka, yaitu Rasulullah shallallahu’alihi wasallam  sebagai imamnya orang-orang yang beriman dan pengikut-pengikutnya dari  perlakukan orang- orang kafir pada waktu itu.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Apabila  orang-orang yang jahil dan ahlul bida&#8217; diseru untuk kembali ke shirothol  mustaqim, dengan segala penghinaan yang ada pada mereka, mereka tetap berbangga  di atas kesesatannya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Maka seseorang  yang tetap di atas Islam yang hakiki (satu kelompok yang telah di khabarkan oleh  Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam), dia berada dalam  keadaan:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">-Asing dalam  agamanya, karena kerusakan agama kaum muslimin.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">-Asing di dalam  berpegang teguh di atas sunnah, karena berpegang teguhnya kaum muslimin dengan  bid&#8217;ah-bid&#8217;ah.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">-Asing dalam  akidahnya (keyakinannya), karena rusaknya akidah kaum  muslimin.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">-Asing dalam  sholatnya, karena buruk dan rusaknya sholat kaum muslimin.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">-Asing dalam  manhajnya (jalannya), karena kesesatan dan kerusakan jalan yang ditempuh oleh  kaum muslimin.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">-Asing dalam  penyandarannya, karena bertentangan dengan penyandaran kaum  muslimin.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">-Asing dalam  muamalahnya (hubungannya) dengan kaum muslimin, karena kaum muslimin bermuamalah  di atas hawa nafsu mereka.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kesimpulannya :  Dia sebagai seorang yang asing dalam seluruh perkara dunia dan akhiratnya, dia  tidak menemukan keumuman kaum muslimin yang membantu dan memberikan pertolongan  kepadanya. Dia menjadi orang yang:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">- ‘Alim diantara  orang-orang yang jahil,</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">- Pembawa sunnah  diantara orang-orang ahlul bida&#8217;,</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">- Da&#8217;i yang  menyeru kepada Allah dan Rasul-Nya diantara da&#8217;i-da&#8217;i yang menyeru kepada hawa  nafsu dan bid&#8217;ah-bid&#8217;ah,</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">- Memerintahkan  kepada perkara yang ma&#8217;ruf (baik) dan melarang dari perbuatan mungkar diantara  kaum muslimin yang menganggap perkara yang ma&#8217;ruf adalah mungkar dan perkara  yang mungkar adalah ma&#8217;ruf.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">(Madarijus  Salikin: Ibnu Qoyyim Al Jauziyah; Juz III/198-200)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Mereka adalah  kelompok pembeda antara al haq dan al bathil yang berada di atas dasar alqur&#8217;an  dan assunnah baik dari sisi akidah, manhaj, maupun amal.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kejelasan seorang  mu’min, baik da’i maupun mad’u (kaum muslimin yang diseru) berada di atas dasar  al haq merupakan perkara yang dhoruri (mendasar), karena kebathilan banyak  dihiasi dan ditampilkan dalam bentuk atau pakaian iman. Khususnya golongan  orang-orang hizbi dan pribadi- pribadi yang dahulunya mengetahui dan memahami  tentang iman kemudian menyimpang dan menyelisihinya. Karena mereka berkeyakinan  bahwa setelah penyimpangannya tersebut, pemikirannya tetap di atas petunjuk  (kebenaran). Apabila seorang da&#8217;i demikian keadaannya, maka dia akan menimbulkan  kerusakan terhadap Islam yang hakiki.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Seorang muslim  yang tetap dan kokoh dalam menjalani agamanya akan senantiasa adil dalam  muamalahnya. Tidak bersifat lemah lembut kepada pendusta-pendusta dari golongan  Yahudi, Nashara, dan yang lainnya, menempatkan lemah lembut dan kebalikannya  sesuai dengan bimbingan Allah dan Rasul-Nya; paling baik muamalahnya kepada  keluarga, isteri dan anak- anaknya; paling tinggi pemeliharaannya kepada sesuatu  yang mudah, sulit, dan perkara yang berkaitan dengan kabar gembira. Allah &#8216;Azza  wa Jalla berfirman (yang artinya):</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Maka janganlah  kalian mentaati orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka  menginginkan supaya kalian bersikap lunak (lemah lembut) lalu mereka bersikap  lunak (pula kepada kalian)&#8221;. (Q.S. Al Qolam : 8-9)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Dan orang-orang  yang mengikuti syahawatnya bermaksud supaya kalian berpaling sejauh- jauhnya  (dari kebenaran)&#8221;.(Q.S. An Nisaa&#8217; : 27)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Orang-orang  Yahudi dan Nasrani tidak akan ridho kepadamu hingga kamu mengikuti agama  mereka&#8221;. (Q.S. Al Baqoroh : 120)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Perhatikanlah  sikap yang haq dalam melepaskan diri dari kesyirikan, dan orang-orang yang  menjalankannya di dalam alqur&#8217;an (yang artinya):</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">”Katakanlah: &#8216;Hai  orang-orang kafir, aku tidak akan beribadah kepada apa yang kalian ibadahi, dan  kalian bukan penyembah Robb yang aku ibadahi, dan aku tidak pernah beribadah  kepada apa yang kalian ibadahi, dan kalian tidak pernah pula menjadi penyembah  Robb yang aku ibadahi. Untuk kalianlah agama kalian dan untukkulah agamaku&#8221;.  (Q.S. Al Kaafirun : 1-6)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dan perhatikanlah  permisalan yang dicontohkan dengan sangat jelas oleh Rasulullah  shallallahu’alaihi wasallam kepada para sahabatnya radhiallahu ta&#8217;ala anhum:  {&#8220;Kami duduk disisi Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam, maka beliau membuat  satu garis lurus di depannya demikian, dan berkata: &#8216;Ini adalan jalan Allah Azza  wa Jalla&#8217;. Kemudian beliau membuat garis- garis di sebelah kanan dan kiri garis  lurus tersebut, dan berkata: &#8216;Ini adalah jalan-jalan syaithon&#8217;. Kemudian beliau  meletakkan tangannya pada garis lurus yang ada di tengah-tengah dan beliau  membaca ayat yang mulia ini (yang artinya):</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Dan bahwa (yang  Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan  janganlah kalian ikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu  mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah  kepada kalian agar kalian bertaqwa&#8221;.(QS. Al An&#8217;am: 153)}.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">{Hadits Shahih  dari jalan sahabat Jabir bin abdillah, Abdullah bin Mas&#8217;ud, Abdullah bin &#8216;Abbas  Radhiallahu Ta&#8217;ala anhum.Lihat takhrijnya dalam Kitab Kami : Al Junnah fi  Takhrijis Sunnah , Hal 5-8).</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">(Insya Allah  Bersambung)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">(Diterjemahkan  Oleh Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid Dari Kitab Al Qabidhuna ‘ala Al  Jamri)</span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafyonly.wordpress.com/67/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafyonly.wordpress.com/67/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafyonly.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafyonly.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafyonly.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafyonly.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafyonly.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafyonly.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafyonly.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafyonly.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafyonly.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafyonly.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafyonly.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafyonly.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafyonly.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafyonly.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafyonly.wordpress.com&amp;blog=1444686&amp;post=67&amp;subd=salafyonly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafyonly.wordpress.com/2007/08/01/orang-orang-yang-menggenggam-bara-api-bagian-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0f837da578f7d306ee4326fc0fed6e9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafyonly</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
