‘Ilmu Agama ALLAH Selamanya Akan Tetap Tinggi ( Bagian Pertama )

Jalan menuju ilmu di dunia adalah alqur’an dan assunnah. Jalan akhir dari ilmu di akhirat adalah surga Allah tabaraka wa ta’ala. Oleh sebab itulah Nabi Muhammad ‘alaihishalaatu wasallam mendo’akan Ibnu abbas radliyallahu’anhu, dengan sabdanya:

اللهم فقهه فى الد ين و علمه التأويل.

“Ya Allah berilah kefaqihan kepadanya dan berilah kealiman dalam ta’wil (tafsir alquran)”

(HR. Bukhari dan Muslim : 2477, dengan lafadz yang berbeda).

Doa Nabi ‘alaihisshalaatu wasallam di atas mengandung perkara yang pokok, yaitu seseorang yang berjalan di atas ilmu agama Allah akan mendapatkan kebahagian dan keselamatan di dunia dan akhirat. Nabi ‘alaihisshalaatu wasallam tidak mendoakannya dengan: “Ya Allah masukkan dia ke dalam surga” atau “Ya Allah selamatkan dia dari neraka”. Tapi Nabi ‘alaihisshalaatu wasallam mendoakannya agar berjalan di jalan yang mengantarkannya pada martabat yang tinggi di dunia dan akhir kebahagiaan di akhirat.


Demikianlah martabat ilmu agama Allah wahai saudara-saudaraku kaum muslimin. Ilmu agama Allah adalah jalan menuju tuma’ninah (ketenangan) di dunia. Ilmu agama Allah adalah jalan akhir menuju kebahagian di hari kiamat.

Maka wajib bagi seorang mukmin mengambilnya untuk mendapatkan keyakinan yang hakiki, menghilangkan keraguan dan kerancuan syubhat, menafikan kesesatan dan seluruh perbuatan yang menyimpang dari alqur’an dan assunnah. Dengan ilmu tersebut, seorang mukmin akan tetap istiqomah dalam hidupnya, dan mendapatkan ilmu yang rosikh (murni) dalam memahami alqur’an dan assunnah karena menjalankan/mengamalkannya dengan haq sesuai dengan kehendak-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman yang artinya :

“Hendaklah kalian menjadi orang-orang robbani, karena kalian selalu mengajarkan alkitab dan kalian tetap mempelajarinya”. (QS. Ali Imron: 79).


Arrobaniyyun adalah orang-orang yang berdiri di atas ilmu agama Allah ‘azzawa jalla, mempelajari, dan mengajarkan kepada yang lainnya dengan dirosah (pengajaran) yang haq yang

bersumber dari alqur’an dan sunnah Rasul-Nya ‘alaihishalaatu wasallam.


Arrobbaniyyun adalah orang-orang yang menyandarkan keadilan, amanah, agama, ketakwaan, dan ketaatannya kepada Robbul ‘alamin jalla fi ‘ula. Sebagaimana keadaan orang-orang yang menyelisihi, melampaui batas, dan jauh dari bimbingan agama Allah yang menyandarkan dirinya kepada syaithon la’natullah ‘alaih. Seperti perkataan: ‘fulan seperti syaithon! ‘Fulan memiliki pemikiran seperti syaithon!’


Cukup bagi seorang mukmin yang berdiri di atas ilmu agama Allah menyandarkan dirinya kepada Robbul ‘alamin sebagai ‘abdan robbaniyya (hamba Robb sekalian alam).

“Hendaklah kalian menjadi orang-orang robbani, karena kalian selalu mengajarkan alkitab dan kalian tetap mempelajarinya”. (QS. Ali Imron: 79).


Demikian juga robbaniyyun adalah orang-orang yang memberikan tarbiyah kepada manusia di atas kebenaran alquran dan assunnah.

Ini adalah nash alquran, wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, yang menerangkan kepada kita tentang kewajiban mengamalkan ilmu agama Allah, memberikan tarbiyah dengannya, dan seluruh perkara yang berkaitan dengan kehambaan manusia kepada Robbnya.


Apabila kalian memperhatikan, melihat, dan memikirkan seluruh sifat tersebut (dalam ayat Allah) maka hanya terdapat pada mereka yang mendakwahkan ilmu agama Allah ‘azza wa jalla. Ciri pertama dan yang paling pokok yang ada pada arrobbaniyyun adalah keikhlasan mereka dalam berdakwah kepada alqur’an dan sunnah. Mereka tidak mempunyai niat untuk membela pemikiran dan pendapat siapapun kecuali dengan perintah Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam dalam menerangkan ilmu agama Allah.

Mereka tidak menyeru kecuali kepada alquran dan assunnah. Mereka telah memahami alquran dan assunnah dengan pemahaman yang shahih, shorih (jelas), dan fasih. Sehingga tidak ada pada mereka seluruh bentuk keraguan, syubhat, hawa nafsu, dan pemikiran yang disandarkan pada akal. Pemahaman tersebut mereka ambil dari generasi yang masyhur dengan keadilannya, yaitu generasi salafusholeh (sahabat, tabi’in, dan atb’ut tabi’in radiyallahu’anhum ajma’in). Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda yang artinya: “Bacalah alqur’an, yang dengan itu hati-hati kalian akan bersatu/berkasih sayang. Apabila kalian berselisih, maka kembalilah kepadanya.” (HR. Muslim No. 2667).


Bagaimana menuju jalan yang selamat dari seluruh perselisihan dan kejelekan tersebut ?! Yang pertama, kembali kepada Allah ‘azza wa jalla. Yaitu dengan mengikhlaskan diri dalam ibadah dan dakwah. Kedua, memurnikan keterikatan dalam kesiapan untuk kembali pada ilmu yang bersumber pada alquran dan assunnah. Ketiga, membebaskan jiwa dari keterikatan/perbudakan syahwat dan hawa nafsu serta syubhat pemikiran yang bersumber dari akal. Keempat, memurnikan kesiapan untuk kembali pada bimbingan para ulama dan rukun-rukun agama yang akan menolak/membuang seluruh bentuk kesesatan, problem, dan pemikiran-pemikiran rusak yang menyimpang dari alquran dan assunnah.

Apabila seorang muslim telah menjalankan keempat perkara asas tersebut, maka dia telah menempatkan dirinya di atas kebenaran! Ini adalah awal menuju keselamatan. Berilah kabar gembira kepada mereka yang telah menempuh jalan tersebut! Karena akhir dari yang akan mereka dapatkan adalah rahmat dari Allah Al’aliyyul Jalil.


Apa yang engkau harapkan wahai saudara-saudaraku kaum muslimin ?! apakah engkau menginginkan kemewahan dunia dalam beramal, kedudukan dan kehormatan, pengikut yang banyak ?! Apabila demikian tujuannya, maka engkau di atas jalan kebinasaan. Maka jadilah arrobbaniyyun

dalam ilmu, amal dan jalan dalam menempuh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Apabila engkau telah menjadi orang yang robbani, maka puji dan bersyukurlah kepada Allah ‘azza wa jalla. Berdo’alah kepada Allah agar Dia senantiasa memberikan keistiqomahan dan husnul khotimah. Karena hati manusia, wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, berada diantara jari jemari Allah. Allah akan membalikkan sesuai dengan kehendak-Nya.


Janganlah kalian terpengaruh dan memalingkan niat kepada selain Allah dari ilmu yang telah kalian pelajari, jumlah pengikut yang telah kalian dapatkan, dan kefasihan (kepandaian) berbicara untuk meraih massa. Berikanlah seluruh amalan yang kalian jalankan hanya untuk Allah tabaroka wa ta’ala. Karena Allah akan memberikan kebaikan selama kita berprasangka baik kepada-Nya. Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam bersabda yang artinya: “Sesungguhnya Allah berfirman: “Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia menyebut-Ku. Apabila dia menyebut-Ku pada dirinya, Aku menyebutnya pada diri-Ku…” (HR. Bukhori dalam Fathul baari Juz 13/384, Muslim: 2675).


Demi Allah! Kita sebagai seorang mukmin wajib memberikan prasangka baik kepada Allah, dan kita telah melakukannya. Tetapi sedikit amalan kita dalam menjalankan perintahnya! Mudah- mudahan Allah selalu memberikan ampunan kepada kita.

Oleh sebab itulah seorang muslim wajib berada di atas kebenaran dalam beramal untuk meraih keridho’an Allah dan membuang angan-angan tanpa amal. Janganlah kalian menjadi orang-orang yang mengatakan: “Saya menghendaki ilmu agama Allah!” kemudian setelah datang ilmu tersebut kalian berpaling darinya! “Saya menghormati dan menjunjung tinggi para ulama” setelah datang bimbingan dari mereka kalian menyelisihinya ! “Saya menjunjung tinggi alkitab dan assunnah !” tetapi kalian menghabiskan seluruh kehidupan kalian untuk membaca kitab-kitab (buku-buku) filsafat, haroki (pergerakan), yang tidak bersumber pada kebenaran alquran .

Apakah demikian jalan menuju kebahagiaan wahai orang-orang yang mencari kebahagiaan ?! Orang-orang yang menginginkan kebahagiaan dengan berangan-angan dan tidak beramal, pada hakekatnya mereka sama dengan keadaan orang yang bermimpi pada malam hari. Kenapa demikian?! karena mereka tidak mengamalkan apa yang mereka ucapkan. Maka jadikanlah diri kalian sebagai orang-orang yang kembali pada alquran dan sunnah, berpegang teguh dan beramal serta berdakwah kepada keduanya, memuliakan hukum-hukum yang ada pada keduanya, dan kembali pada bimbingan para ulama yang menyeru pada keduanya.


Inilah jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan yang hakiki. Inilah hakekat seorang muslim yang selalu menghiasi dirinya dengan ilmu robbani (ilmu agama Allah). Karena selain ilmu robbani, semuanya kembali pada tujuan/niat yang diberikan kepada selain Allah. Yaitu dengan tujuan memperbanyak pengikut, kesombongan, pengagungan, kehormatan, dan pangkat. Yang kesemuanya berakhir dengan membuang keikhlasan dalam beramal. Mereka tidak menghiraukan sabda Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam yang artinya: “Barangsiapa yang mempelajari ilmu, tidak mempelajarinya kecuali ingin mendapatkan kemewahan dunia, dia tidak akan mendapatkan bau surga di hari kiamat” (HR. Abu Dawud No. 3664, Ibnu Majah No. 252, Ahmad Juz II/338, dan lainnya.Dari jalan Abu Hurairoh).


Demikianlah, balasan sesuai dengan amalan yang dikerjakan. Allah berfirman yang artinya :

“Adapun orang yang memberi di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya surga. Maka, Kami akan menyiapkan jalan yang mudah baginya kelak. Dan adapun orang-orang yang bakhil, dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan balasan, maka Kami akan menyiapkan jalan yang sukar baginya kelak.” (QS. Al Lail :5 – 10 ).


(Bersambung InsyaAllah)


(Diterjemahkan dari Kaset Dakwah Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdil Hamid

Oleh Al Ustadz Abu’Isa Nur Wahid)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: