Sifat Kalam Bagi ALLAH

Fenonema adanya pemahaman sesat yang menyebarkan pemahaman bahwa Al Qur’an adalah mahluk sepertinya tidak pernah pupus hingga kini. Tebukti akhir-akhir ini ada seorang bertitel Doktor dosen salah satu perguruan tinggi Islam di negeri kita yang terang-terangan mengkampanyekan pemahaman nyeleneh tersebut hingga berani melecehkan ayat-ayat Al Qur’an. Bagaimana sebenarnya kedudukan Kalamullah dan Al Qur’an dalam perspektif Islam. Silahkan Simak..

– Pendapat Ahlus Sunnah tentang Kalamullah


Tentang kalamullah, Ahlussunnah ber¬pendapat bahwa kalamullah adalah sifat dari sifat-sifat Allah dan Allah terus menerus disifati dengan sifat kalam/ berbicara secara hakiki sesuai dengan kesempurnaan-Nya dan menurut kehendak-Nya. Bicara-Nya dengan huruf dan suara yang bisa didengar akan tetapi tidak serupa dengan suara makhluk. Berkata-kata dengan apa-apa yang Allah kehendaki dan kapan saja Dia kehendaki.


Dalil atas adanya sifat ini adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Dan Allah berbicara dengan Musa dengan pembicaraan.”

(Q.S An Nisaa: 164)

“Dan ketika Musa datang ke tempat Kami, dan Rabbnya mengajaknya berbicara.”

(QS. Al A’raf: 143)


Dalil bahwa berbicaranya dengan suara adalah firman-Nya:

“Dan Kami menyeru Musa di sisi bukit Thur sebelah kanan dan kami dekatkan dia kepada Kami.” (QS. Maryam: 52)


Dalil dari sunnah adalah ucapan Beliau Shalallahu’alaihi Wassallam,

“Wahai Adam”, maka Adam menjawab, ” Saya ya Rabb.” Maka Allah menyerunya dengan suara. “Sesungguhnya Allah menyuruhmu untuk mengeluarkan dari anak cucumu sekelompok manusia dari neraka. ” Maka Adam menjawab, “Wahai Rabbku kelompok mana yang dikeluarkan dari neraka?

(HR. Bukhari Muslim dari Abi Said Al Khudry)


Dalil bahwasanya berbicara-Nya itu dengan huruf adalah firman Allah :

“Dan Kami berkata,”Wahai Adam tinggallah engkau dengan istrimu di jannah.”

(QS. Al-Baqarah: 35)

Dan dalil bahwasanya berbicaranya dengan masyi’ah-Nya (kehendak-Nya) adalah:

“Dan ketika Musa datang ke tempat Kami, dan Rabbnya mengajaknya berbicara.”

(QS. Al A’raf: 143)


Maka dalam ayat ini berbicaranya Allah itu itu setelah datangnya Musa alaihis salam.

Al Kalam adalah sifat dzatiyah jika dilihat dari asalnya. Karena sesungguhnya Allah itu terus menerus disifati dengan sifat kalam dan maha kuasa untuk berbicara.


Dan termasuk sifat fi’liyah jika dilihat dari satu persatu dari kalam-Nya. Karena hal ini berkaitan dengan kehendak-Nya kapan Dia kehendaki.

Penulis banyak menyebutkan dalil kalam karena disini banyak terjadi perdebatan dan banyak terjadi fitnah pada masalah sifat ini.


– Ucapan Ahlus Sunnah tentang Al Quran.


Mereka berkata Al Quran adalah kalamullah, dan bukan makhluk. Dari-Nya berasal kepada- Nyalah akan kembali. Dalil yang menjelaskan bahwa Al Quran adalah Kalamullah adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Dan jika seseorang dari orang-orang musyrik ada yang meminta perlindungan kepadamu, maka berilah perlindungan sampai mereka mendengar kalamullah.

(QS. At Taubah:6)

Kalamullah di sini adalah Al Qur’an.


Dalil bahwasanya Alquran itu diturunkan adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:


“Dan ini adalah kitab yang Kami menurunkannya yang diberkahi, maka ikutilah dan bertakwalah kalian semua agar kalian dirahmati.” (QS Al An’am: 155)


Dalil bahwa Al Quran itu bukan mahluk adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Ketahuiluh miIik-Nyalah penciptaan dan perintah

(QS. Al A’raf: 54)

dalam ayat ini Allah membedakan antara perintah-Nya dengan ciptaan-Nya.

Dan Al Qur’an merupakan perintah Allah (bukan ciptaan-Nya pent) sebagaimana firmanNya:


” Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh dari perintah Kami.” (QS. As Syura: 52) dan sesungguhnya Al Quran itu adalah termasuk Kalamullah dan Kalamullah adalah salah satu sifat dari sifat-sifat Allah dan sifat Allah itu bukanlah makhluk.

Dan makna dari-Nya berasal bahwasanya Allah berkata-kata dengannya sejak dahulu.


Dan makna kepada-Nya lah akan kembali adalah akan kembali kepada Allah pada akhir

zaman, akan diangkat dari mushaf-mushaf, dari dada-dada manusia sebagai pemuliaan baginya ketika manusia menjadikannya sebagai bahan olok-olok dan permainan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: